Tuesday, June 25, 2013

Waktu kecil , melarang nyontek, Sudah sarjana, anti korupsi.



Ini sekedar buat hiburan aja

   Mengapa aku, duduk di kursi,
     Terlalu lama, duduk di bangku
     Bagaimana aku, tidak korupsi,
Uang selalu,kering di saku.


Ayam betina, pandai berkotek
Bertelur, di sangkar besi.
Waktu kecil , melarang nyontek,
Sudah  sarjana,  anti korupsi.




Kalau ada sumur di ladang
         jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
            hakim dan jaksa diajak kompromi


Berburu ke padang datar
dapat rusa belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
uang rakyat dibawa lari

Berakit-rakit ke hulu
         berenangnya kapan-kapan
       Maling kecil sakit melulu
       maling besar dimuliakan

Bagaimana tebat, hendak diisi,
Sumber bocornya, ada di dasar.
Bagaimana pejabat, tidak lorupsi,
Biaya kampanye, terlalu besar.


          Belajar menghukum Koruptor bangsa ini harus berkaca kepada China. Ketika dilantik jadi Perdana Menteri China pada 1998, Zhu Rongji menyatakan, "Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu."
Zhu tidak asal bicara. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis China, dihukum mati karena terlibat suap US$ 5 juta. Tanpa ampun. Permohonan banding Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan.

Zhu di awal tugasnya mengirim peti mati kepada koleganya sendiri. Hu Chang-ging, Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, pun kebagian peti mati itu. Ia ditembak mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar.
Xiao Hongbo dijatuhi hukuman mati,lelaki 37 tahun yang menjabat Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank milik negara, di Dacheng, Provinsi Sichuan, itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan orang pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan. Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran. Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, dihukum mati karena menerima suap lima juta dolar AS. Tidak ada tawar-menawar. Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara.
Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti mati. Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan. Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar.

Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera. Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut,
Kini pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestic bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka sudah mencapai 300 miliar dolar AS.
Coba Kita punya orang seperti ini ya...

http://mehrir.blogspot.com/2012/12/b...l#.UW_zUmrz5z8\
BEIJING - Mantan Menteri Kereta Api China Liu Zhijun yang baru saja didakwa atas kasus korupsi, berniat mengganti pengacaranya. Keputusan itu diambil setelah jaksa tidak bisa menjamin keselamatan Liu dari vonis mati.

"Dia meminta saya untuk menjamin, dirinya tidak akan dijatuhi hukuman mati. Namun saya tidak bisa melakukan hal itu," ujar keluarga Liu, Gao Zicheng, seperti dikutip Beijing Times, Kamis (11/4/2013).

Liu pun memilih untuk menggunakan jasa pengacara selain Gao untuk mendampinginya di pengadilan. Namun aparat hukum China belum memberikan kabar lebih lanjut mengenai kasus itu.

Seperti diketahui, Liu dituduh bersekongkol dengan pengusaha bernama Ding Shumiao untuk mendapatkan penghasilan ilegal senilai miliaran Yuan. Liu juga diklaim menerima dana sebesar 60 juta Yuan atau sekira Rp94 miliar (Rp1.567 per Yuan).

Di bawah hukum China, hukuman mati bisa dijatuhkan pada seorang yang menerima dana suap sebesar 100 ribu Yuan (Rp156 juta). Dana yang diterima Liu jelas sangat besar, dan oleh karena itulah sulit bagi Liu untuk lolos dari hukuman mati.

Penanganan kasus korupsi Liu menjadi salah satu bukti kuat bahwa Pemerintah China yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping memang berkomitmen membasmi korupsi. Partai Komunis China juga menegaskan, mereka tidak akan memberikan keringanan terhadap para pelaku korupsi.

Sektor transportasi kereta di China memang sering didera sejumlah permasalahan. Dalam beberapa tahun belakangan ini, perusahaan kereta milik negara itu dinyatakan memiliki utang yang menumpuk. 
Belajar menghukum Koruptor bangsa ini harus berkaca kepada China. Ketika dilantik jadi Perdana Menteri China pada 1998, Zhu Rongji menyatakan, "Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu."
Zhu tidak asal bicara. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis China, dihukum mati karena terlibat suap US$ 5 juta. Tanpa ampun. Permohonan banding Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan.

Zhu di awal tugasnya mengirim peti mati kepada koleganya sendiri. Hu Chang-ging, Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, pun kebagian peti mati itu. Ia ditembak mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar.
Xiao Hongbo dijatuhi hukuman mati,lelaki 37 tahun yang menjabat Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank milik negara, di Dacheng, Provinsi Sichuan, itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan orang pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan. Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran. Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, dihukum mati karena menerima suap lima juta dolar AS. Tidak ada tawar-menawar. Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara.
Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti mati. Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan. Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar.

Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera. Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut,
Kini pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestic bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka sudah mencapai 300 miliar dolar AS.
Coba Kita punya orang seperti ini ya...

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook