Tuesday, September 3, 2013

HAJI TOMAT, PERGINYA TOBAT, PULANGNYA KUMAT


HAJI TINGGALKAN, SIFAT BINATANG
HAWA NAFSU, TERUS MENANTANG
TIAP BERINFAQ ,HATINYA GIRANG
BAIK DENGAN,  SEMUA ORANG


DI TANAH SUCI, BANYAK YANG TERSESAT
AMBIL WUDHU’, SEGERA TOBAT
SEGERALAH,  LAKUKAN  SHALAT
AGARA CEPAT BERTEMU ALAMAT

HAJI TINGGALKAN, SIFAT BINATANG
HAWA NAFSU, TERUS MENANTANG
TIAP BERINFAQ ,HATINYA GIRANG
BAIK DENGAN,  SEMUA ORANG.


Dan Subhanallah.. hilang lagi.,Lagi-Lagi..

Ini kisah nyata dari seorang jemaah haji yang penulis kutip serius. Belau menyatakan. “ Kaca Mataku Hilang, Padahal  baru saja aku kenakan ketika perjalanan dari Hotel ke Masjidil Haram tadi . Aku berusaha mencarinya tapi  jauh dalah hatiku aku sudah merasakan bahwa aku kehilangan kacamataku yang kedua.  Sedih sekali apalagi melihat ibadah thawaf yang aku jalani di tengah cuaca yang benar benar menyengat hari ini.

Huff
Sampai di hotel aku hanya terdiam..
Akhirnya aku hanya memiliki kacamata terakhir yang sudah aku siapkan sebelumnya. Sambil memandang kacamata itu aku berdoa lagi.. Allah please dong kacamata terakhir ini jangan hilang lagi.

Tapi aku merasa, kayaknya jika masih ditanah Haram ini, kemungkinan kacamataku akan hilang lagi, jadi daripada kehilangan lagi lebih baik segera aku sedekahkan.
Sejenak aku memandang Teh Eny, teman sekamarku yang sangat prihatin dengan musibahku. Kemudian aku berkata Teh,, ini kacamataku disimpan ya,, daripada aku kehilangan lagi, lebih baik dikasih ke  teteh aja”

Beliau menerima dengan senang dan aku pun lega  karena telah menghilangkan kacamataku yang terakhir. Lengkap sudah aku kehilangan semua kacamatalku dirumah Allah ini. Hanya dengan sebuah doa sederhana yang aku ucapkan di tanah air sebelumnya. Semoga ini jalan terbaik  yang ditunjukkan Alllah. Karena meskipun aku kehilang semua penuntun mata ku. Alhamdulillah aku dapat menyelesaikan semua ibadah ku, dan tidak tersesat.
(Novatuti)

***
Catatan kecil dari admin:

Sebuah kisah untuk direnungkan. Jadi merasa diingatkan, betapa sesungguhnya Allah lah yang Maha Tahu akan segala yang terbaik untuk umatnya.
 Namun seringkali kita berpikiran lain. Terkadang, kita merasa doa kita tidak dikabulkan.
Ada pula yang merasa dikabulkan tapi ternyata tidak sesuai dengan keinginannya.

Mengapa ini bisa terjadi?
Apakah Allah tak mendengar doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Mendengar.
Apakah Allah tidak bisa mengabulkan doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Apakah Allah salah mengartikan doa-doa kita? Tentu tidak, karena Allah Maha Mengetahui..

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah: 186).

Yang terjadi, mungkin kita lah yang tidak mendengar jawaban-jawabanNYA.
Mungkin kita lah yang belum melihat kekuasaan Allah.
Mungkin kita lah yang justru tidak mengerti apa-apa yang menjadi jawabanNYA…

Rasullulah SAW bersabda pada sebuah hadist

”Seorang hamba do’anya senantiasa akan dikabulkan selama tidak berdo’a untuk perbuatan dosa, atau memutuskan silaturrahim, serta selama tidak tergesa-gesa. Beliau ditanya, wahai Rasulullah apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?. Rasulullah menjawab, “Aku telah berdo’a, aku telah berdo’a, tetapi aku belum melihat do’aku dikabulkan. Lantas ia merasa kecewa dengan hal itu, sehingga ia pun tidak mau lagi berdo’a.”
(HR. Muslim).

Setiap doa yang kita terbangkan ke langit penuh harap, setiap doa yang lirih kita ucapkan di tengah keheningan malam, setiap doa yang dengannya air mata mengalir membersihkan pipi, akan selalu diterima oleh Allah SWT.

Dan Allah dengan segala kasih sayangnya, akan menjawab doa-doa hambaNYA dengan cara yang paling indah, paling tepat dan paling menakjubkan.
Allah akan memenuhi keinginan kita di saat yang tepat atau bahkan memberi kita sesuatu yang jauh lebih baik dari yang kita minta.
Karena Allah benar-benar mengetahui apa-apa yang terbaik bagi dunia maupun akhirat hambaNYA.

Bagi manusia , mungkin untuk memahami semuanya, terasa butuh waktu dan butuh pengertian mendalam. Tapi percayalah, semua hanya masalah waktu.
Apalagi memang, apa-apa yang terlihat secara kasat mata sebenarnya hanyalah permukaan saja. Selalu ada hikmah mendalam di setiap kejadian. Baik itu kejadian yang tampaknya menyenangkan maupun kejadian yang tampaknya tidak menyenangkan. Butuh mata hati untuk bisa melihat hikmah di balik kejadian.

Alhamdulillah, saudari Nova di tengah segala kehilangannya, tetap mampu melihat dunia dengan mata hati. Bahkan ia malah bisa menjadi manfaat bagi sekitar dengan memberikan kacamata terakhirnya pada orang lain.
Saat itu saudari Nova memang kehilangan kacamatanya, tapi aku rasa, ia semakin terbuka mata hatinya. (Ruli Amirullah)


         Malam telah turun rendah, dan bayang kegelapan telah melanda kota ketika saat itu cahaya gemerlap lampu-lampu taman di istana kaum berpunya berbanding terbalik dengan redupnya gubuk-gubuk kaum duafa. Orang-orang mengenakan busana pesta hilir mudik tak karuan namun wajah mereka menampakkan keriangan semu yang tak terjangkau oleh aliran darah bidadari syurga. Cek Mat tertunduk menekuri panasnya api temaram dari sebuah tungku penghangat yang disediakan di sebuah ruang khusus untuk bersauna. Ia menghindari kerumunan orang-orang yang berteriak di sepanjang jalan. Pikirannya berkelana terhadap jeniusnya zaman yang dilahirkan dalam kekayaan, hidup dengan paradigma keakuan, namun berkeinginan wafat dengan husnul khotimah, serta dihidupkan lagi dalam indahnya taman syurga.
         Ia terlahir dari keluarga kaya secara turun temurun yang tinggal di sebuah rumah mewah di tepian Sungai Musi Palembang, dan sebagai tempat persinggahan jika malam tiba, ia mempunyai rumah rakit yang berkilauan dihiasi oleh lampu-lampu aneka warna, sehingga apabila dipandang dari Benteng Kuto Besak atau dari Jembatan Ampera akan nampak perbedaan rumah rakitnya dari yang lain. Ia mempunyai isteri yang saleha, yang senantiasa memohon kehadirat Allah SWT untuk menyadarkan suaminya kembali pada jalan yang telah diridhoi-Nya. Ia sadar, kadangkala pemikirannya sering tidak menjangkau magma sang suami, namun sebagai bentuk pengabdian yang tulus, ia menerima semua perlakuan, karena ia yakin “inilah jalan ke syorga yang hakiki”.
         Suatu hari mereka berencana hendak menunaikan ibadah haji. Cek Mat berusaha mengubah semua perilaku yang tidak sesuai dengan syariat Islam, ia mendudukkan jiwa congkaknya di pelataran awan hitam. Jiwa yang habis menyibukkan diri dalam kesombongan dunia. Di sana ia berdiri dalam gerombolan kemegahan, memukul dadanya sendiri, dimahkotai rangkaian bunga yang penuh onak dan duri. ”Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosaku, jauhkanlah aku dari segala mara bahaya yang akan menimpa, selamatkanlah perjalananku, dan jadikanlah keberangkatanku ini menjadi haji yang mabrur”, tak henti-hentinya Cek Mat memanjatkan do’a. Tapi itu hanya wacana dalam hatinya saja, ia tidak menyadari bahwa orang yang terlibat dalam kegiatan riba akan menjadi mati jiwanya atau buta hatinya. Luluh lantak semua yang indah-indah, hilanglah kemanisan beriman.

”Masya Allah Pak, sadar dengan rencana tersebut. Ingat Allah tidak pernah membutakan mata-Nya dan menutup telinga-Nya terhadap semua perbuatan kita”
       ”Aku tahu apa yang mesti aku ceritakan”, elak Cek Mat dengan rupanya semula. Sia-sia memang, dirinya telah tersumbat zat batu kehidupan yang tak peduli akan kebenaran. Bisikkan yang berusaha membuka nurani hanya berdiri di bawah ujung jemari cahaya. Jiwa bodoh itu telah kembali mengejar syurga dunia, menempatkan hati pada genggaman kehampaan. Ia telah merendahkan derajatnya sendiri, tingkahnya berbaur dengan penghancuran bukit bebatuan, beserta gemeretak reruntuhan dan ratapan jurang yang dalam. Sang isteri menangis, menaruh simpati pada si miskin hati, sekalipun si miskin bersukaria tersenyum memandang emas yang gemerlapan. Hari telah berlalu. Sang suami telah pula mengikuti jejak kesenangan, dengan cakarnya yang tajam menancapkan jemari pada ulah-ulah laknat. Ia telah berlutut di bawah budak sang Nafsu yang geloranya telah mengusir sekumpulan keluarga leluhur, membahana menggulung tetangga di sekitarnya.
         Sang Haji itu telah memasukkan arakan jiwa wanita ke dalam terowongan yang memalukan dan mengerikan. Ternyata perbuatan jahat setelah pulang haji singgah kembali dan lebih parah karena ketakberdayaannya dalam menjilat ketamakkan serta keserakahan yang mengalir dalam darah riba. Di penghujung hari-harinya, karena didera oleh perasaan berdosa, isteri dan putera-puteri yang lahir dari kekosongan jiwa meninggalkan rumah penderitaan itu. Mereka mencari kebenaran yang ukuran dengan itu, terdapat uluran tangan yang mendatangkan pengetahuan dari hati agung dan lingkar cahaya. Saat itulah sang waktu terhenti dan tertahan.
         Jurang telah membentang, istana debil telah runtuh tanpa meninggalkan jejak kemegahannya, yang ada hanya kemuraman dan kuburan bertaburan bunga mawar. Penyakit yang tak kunjung sembuh telah merengut jiwa yang lumpuh. Ia terpuruk dalam kesendirian. Harta benda yang dibanggakan sudah lenyap bersama sang waktu. Kebenaran itu hanya direngkuh sesaat tatkala di tanah suci. Pertobatan itu hanya singgah sebentar, tatkala Allah memanggil menghadap perjamuannya. Sekembalinya, ia telah hiruk pikuk lagi meneriakkan keperkasaan semu. Orang-orang menggelarinya dengan sebutan Haji TOMAT, pergi TObat pulangnya kuMAT.

(Sebelum ke tanah suci saya lebih menyukai sholat sendiri dibanding berjamaah, saya sering menunda-nunda shalat karena urusan pekerjaan, dan terakhir sebelum ke tanah suci pula ada permasalahan di pekerjaan saya). Maka kemudian saya berdoa di dalam hati “Ya Allah berikanlah saya suatu ilmu dan kebijaksanaan yang akan memperbaiki diri saya kelak apabila kembali ke Indonesia”. Saya terus menerus berdoa seperti itu bahkan ketika dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah. Saya ingin suasana sejuk, damai dan khusyuk yang saya rasakan di Madinah akan berlangsung terus menerus dalam hidup saya.
Singkat cerita sampailah kami di Makkah Al Mukkarramah pada hari Ahad Tanggal 20 Mei pukul 11 malam waktu setempat. Pimpinan rombongan dan ustadz pendamping bersepakat bahwa kita langsung akan melaksanakan ibadah umrah malam itu juga (setelah sebelumnya mengambil miqot di bir ali) supaya niat dan ihram kita tetap terjaga.

Maka setelah kita menaruh barang-barang di kamar langsung kita menunaikan ibadah umrah. Kebetulan saya beserta istri serta ada satu keluarga lagi terpisah hotelnya dengan rombongan yang lain. Kebetulan juga ketika turun dari bus tas kecil saya (berisi dompet, ID card, dan hp) tertinggal di bus sehingga disimpankan oleh ketua rombongan. Maka berangkatlah kami ke Masjidil Haram bersama-sama rombongan, kita janjian bertemu di bawah jam kecil dari pintu masuk King Abdul Aziz. Setelah semua berkumpul kita sama-sama melakukan prosesi ibadah umrah di Masjidil Haram.

Alhamdulillah semua proses berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir. Waktu menunjukkan jam 3 pagi waktu setempat ketika itu, kemudian saya dan istri sepakat untuk langsung melakukan shalat sunnah di Hijir Ismail. Sampai pada saat shalat selesai saya masih melihat istri saya. Tapi saat saya hendak beranjak pergi, saat itulah saya kehilangan jejaknya sampai tiba waktu Subuh. Subhanallah

Selesai shalat Subuh saya berinisiatif untuk menunggu dibawah Jam Raksasa Makkah, dari selesai subuh hingga pukul 6 saya menunggu namun tidak nampak jua muka istri saya (yang pada saat itu ternyata sudah kembali ke hotel). Maka setelah menunggu itu saya berinisiatif untuk menuju hotel.

Perjalanan ke hotel saya lupa-lupa ingat (karena tiba semalam jam 11, sebentar kemudian langsung ke Masjidil Haram), sampai di hotel tersebut ketika mau masuk lift hotel, Subhanallah, saya lupa nomor kamar saya. Maka saya ke resepsionis hotel untuk menanyakan nomor kamar atas nama saya. Subhanallah, ternyata tidak ada kamar beratas nama saya! Kemudian saya bertanya beratas nama agen umrah tersebut / pimpinan rombongan juga tidak ada nama itu! Maka paniklah saya.
Ditengah kepanikan itu saya bolak-balik ke Hotel - Masjidil Haram, saya masuk lagi ke Masjidil Haram, tawaf, dan shalat sunnah, dengan harapan segera bertemu istri/rombongan saya, tapi ternyata setelah keluar saya mengelilingi masjidil haram kemudian hingga ke hotel lagi saya belum bertemu istri saya juga. Saya kembali menemui resepsionis, berharap bantuannya, namun ternyata saya malahan diusir. Subhanallah, kondisi saya saat itu bingung sekali cuma 2 kain ihram yang menemani (karena hp, dompet, dan ID card masih dibawa ketua rombongan). Saya sempat juga bertemu dengan rombongan lain dari Indonesia juga yang kebetulan menginap di hotel tersebut, ustadzahnya bahkan sampai membantu saya untuk menanyakan ke resepsionis tersebut (kebetulan beliau bisa berbahasa arab). Tapi lagi-lagi dibilang tidak ada. Sang resepsionis bahkan sempat berkata dalam bahasa inggris “Pray to Allah”.

Lemaslah saya, namun saya belum menyerah, saya teringat bahwa sebagian besar rombongan saya yang lain menginap di hotel yang melewati pasar. Maka saya tekadkanlah saya menuju arah pasar tersebut. Tapi sejurus kemudian, bingunglah saya ketika menemui jalan tersebut karena tidak nampaklah hotel tersebut ataupun salah seorang dari rombongan saya. Dengan lemas sayapun kembali lagi ke hotel.

Ketika kembali ke hotel saya tidak lagi menjumpai sang resepsionis, karena toh pasti akan ditolakkan kembali olehnya. Jadi saya duduk di lobby, disana saya menjumpai rombongan umrah yang tadi sempat membantu saya untuk bertanya kepada sang resepsionis. Sikap hati saya ketika itu saya sudah pasrah, nah ketika itu pula saya meminta didoakan kepada rombongan Indonesia tersebut,  “Mohon doanya supaya saya dapat bertemu istri/rombongan saya”. Oleh rombongan tersebut saya dianjurkan untuk menuju ke satu tujuan/tempat yaitu dibawah Jam Raksasa Makkah. Mereka (hampir semua berkata) “Akan kita doakan pak!” atau yang lain “InsyaAllah bertemu!”.

Saya seketika itu turun dari lift dan menuju jam raksasa, persis dibawah jam tersebut saya bertemu istri saya! Subhanallah, Maha Besar dan Maha Suci Allah. Perasaan haru, sedih, tegang saya bertanya kepada istri kemanakah dia selama saya hilang. Ternyata dia juga mencari-cari saya berkeliling masjidil haram, setelah mendapati diri saya tidak jua kembali ke kamar hotel. Jadi selama tiga jam tersebut, dari pukul 6 sampai pukul 8 waktu Makkah kita saling mencari-cari namun tidak bertemu, Subhanallah!

Jam raksasa di Makkah
Saya kemudian instrospeksi diri setelah itu. Tiba-tiba saya teringat dengan doa saya selama dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah, yaitu “Ya Allah berikanlah saya suatu ilmu dan kebijaksanaan yang akan memperbaiki diri saya kelak apabila kembali ke Indonesia”. Subhanallah saya merasa diberi ilmu Sabar dan Tawadhu (rendah hati) oleh Allah SWT secara praktek lapangan langsung. Saya baru menyadari arti kata Sabar dan Tawadhu yang sebenar-benarnya, sikap yang ketika sikap kita benar, maka pertolongan Allah SWT datang. Ternyata sikap Sabar dan Tawadhu (rendah hati) yang saya pelajari langsung itu adalah :
1.      Pasrah
Saya sudah sepenuhnya Pasrah ke Allah, menyerahkan urusan saya, saking pasrahnya sampai tidak terpikir lagi akan berbuat apa. Pasrah yang tidak lagi mengandalkan akal/fikiran, orang lain, atau hal-hal yang lain yang (tadinya) membuat saya yakin segera menemukan istri/rombongan saya.

2.      Minta didoakan oleh orang-orang saleh / sesama muslim
Meminta didoakan oleh rombongan tersebut, dengan sikap yang benar-benar rendah hati, yaitu sampai tidak peduli lagi bagaimana reaksi orang ketika saya minta didoakan (apakah akan mencemooh saya bodoh atau yang lain sebagainya)

3.      Menuju ke suatu tujuan/tempat
Kita perlu bergerak menuju suatu tujuan/tempat untuk menggapai hasil yang diinginkan. Tidak bimbang menuju ke suatu tujuan tersebut

Subhanallah itulah hikmah terbesar dari hilang selama 3 jam, ternyata ketika sikap hati sudah benar, maka ternyata pertolongan Allah seketika itu datang dan saya langsung bertemu istri saya. Hikmah lain yang saya dapat :
1.      Bahwa kita tidak boleh sombong dengan melupakan hal-hal kecil seperti mencatat nomor kamar, kemudian bertanya nama penginapan, janganlah pernah meninggalkan ID Card (selalu pasang di badan) karena disitu ada nomor kontak yang bisa dihubungi. Subhanallah saya juga membaca di internet mengenai hikmah hilang ataupun tersesat di Makkah, rata-rata diakibatkan oleh sikap sombong. Ada yang hilang hingga berhari-hari, bahkan ada yang hilang sedari berangkat umrah dan baru bertemu saat akan kembali ke Indonesia.

2.      Sikap hati tersebut harus bersama-sama ada dalam diri kita, tidak cukup salah satunya, karena sebelumnya sayapun pernah menunggu di Jam Raksasa Makkah tersebut namun tidak disertai rasa pasrah, ketika saya mencari di dalam Masjidil Haram saya sudah pasrah namun tidak meminta doa dari teman muslim yang lain.


No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook