Saturday, June 21, 2014

BIAR MISKIN DI DUNIA, KAYA DI AKHIRAT



BIAR MISKIN DI DUNIA, KAYA DI AKHIRAT
GIATKANLAH DIRI, HIDUP TIDAK MELARAT
DITAKDIRKAN  MISKIN, TAPI TAAT IBADAT
KAYA HATI, LEBIH PUAS DAN HEBAT


KURIKULUM BARU HARUS MEMUAT Produktifitas. Produktifitas adalah perbandingan antara output yang dihasilkan dengan input yang dikeluarkan. Semakin besar output yang dihasilkan dibandingkan biaya yang dikeluarkan, dikatakan produktifitasnya semkin tinggi. Produktifitas Tenaga Kerja secara riil akan diukur dari upah yang diterima atau balas jasa tehadap barang modal yang dimiliki. Ketika seseoarang tidak bekerja tentu saja tidak ada yang dihasilkan dan menjadi tidak produktif dan tidak akan ada kesejahteraan baginya. Semakin produktif seseorang akan semakin tinggi tingkat kesejahteraannya. Adanya korelasi positif antara produktifitas dan kesejahteraan.



          Kemiskinan terjadi apabila seseorang yang bekerja, tapi balas jasa yang ia terima tidak sesuai biaya yang ia keluarkan, ‘besar pasak daripada tiang’. Jika sebuah keluarga yang terdiri dari 5 anggota keluarga, hanya seorang bekerja dengan penghasilan yang sebenarnya hanya bisa untuk membiayai kehidupan dia sendiri atau satu orang lagi tambahan, jelas kemudian keluarga tersebut akan jatuh kemiskinan. Jadi, antara produktifitas, penganguguran, kemiskinan dan kesejahteraan sesuatu yang saling berkaitan.


          Dari paparan yang telah disampaikan, disimpulkan bahwa kesejahteraan tidak bisa terwujud apabila: seseorang tidak bekerja (menganggur), atau dia bekerja tapi balas jasa diterima tidak bisa mencukupi kebutuhan anggota keluarga (kemisikinan). Idealnya untuk mencapai sejahtera, semua orang bisa bekerja dan bisa membiayai dirinya sendiri, atau ketika dia tidak bekerja (sekolah atau mengurus rumah tangga) ada anggota keluarga lain yang membiayainya. Artinya, Program pengentasan kemiskinan dan pengangguran harus didasarkan kepada’framework’ BAGAIMANA SEMUA ANGKATAN KERJA BISA BEKERJA (PRODUKTIF) DAN KELUARGA MISKIN BISA MENINGKATKAN KEMAMPUAN DAN PENGHASILANNYA (PRODUKTIFITAS). Pemahaman konseptual seperti ini perlu, agar program yang dimunculkan lebih terarah, terukur, efektif, dan efisien.

          Apabila kita lihat disekeliling kita, bahkan dikeluarga sendiri, berapa banyak yang tidak bekerja atau bekerja tidak sesuai dengan kemampuan dan investasi pendidikan yang dikeluarkan. Lebih jauh, kalau kita lihat Demografi penduduk kita, sebagian besar penduduk Indonesia adalah balita, anak-anak, usia sekolah, belum bekerja dan mengurus rumah tangga. Secara rata-rata seorang pekerja di Indonesia harus membiayai 4 orang lainnya yang tidak bekerja. Dan mereka berpotensi untuk miskin ketika tidak bekerja atau biaya hidup meningkat. Ternyata, mewujudkan ‘sejahtera’ tidak segampang diucapkan oleh jargon-jargon politik, pidato-pidato, ataupun proposal-proposal program. Dibutuhkan, terobosan baru, inovasi dan kerja keras, agar bangsa ini tidak selalu terpuruk dengan masalah kemiskinan dan pengangguran.

        Sebelumnya saya minta maaf bila judul diatas terkesan extreem dan melecehkan, bukan tanpa alasan saya menulis judul diatas, tapi lebih kepada kemirisan hati ketika melihat sebuah liputan di sebuah televisi swasta pada acara news tanggal 22 Desember 2012, tentang air bersih , yang sebenarnya telah diulang dan diulang terus oleh hampir semua media , yayasan dalam acara apa aja, dan juga tidak kurang oleh pemerintah sendiri melalui himbauan spanduk, media iklan, sampai pada undang-undang yang mempunyai sanksi berat, tapi tetap saja tidak ada hasilnya malahan sampai dengan saat ini bertambah parah.
          Sayang sekali saya tidak bisa mencantumkan foto dari kejorokan warga Jakarta (daerah dimana tempat saya tinggal, mungkin di daerah lain juga punya hal yang sama), mulai dari pintu air yang tersumbat oleh sampah sampai kepada warganya sendiri yang bodoh dengan melakukan pembuangan sampah secara sembarangan baik di jalan ataupun kali bahkan di tempat-tempat publik yang lain seperti taman, rumah sakit, kantor-kantor pemerintaha, dan tempat umum lainnya.
         Berita yang saya lihat dan dengar pada tanggal 22 desember 2012 itu adalah tentang bagaimana pemerintah tidak bisa mengolah secara mandiri air bersih sehingga harus bekerja sama dengan swasta asing, dan juga bagaimana pula harga air per m3 bisa lebih mahal daripada malaysia yang dimana harganya lebih murah 5x dari harga air di jakarta dengan standar langsung bisa diminum. Dari hasil kesimpulan berita itu adalah mempertanyakan bagaimana pemerintah khususnya pemda Jakarta bisa terlepas dari transaksi yang tidak menguntungkan dengan swasta asing yang punya kontrak sampai dengan 2023.
        Menurut saya , pemerintah tidak bisa sepenuhnya bisa disalahkan tentang tata kelola mandiri dan penetapan harga air untuk rakyat, karena disini juga ada peran serta masyarakat yang tidak kecil bahkan mungkin berperan lebih besar daripada pemda itu sendiri.Mari kita lihat asalnya kenapa air di Jakarta bisa mahal dan kurang memenuhi standar kelayakan konsumsi serta kurang lancar dalam penyalurannya, sedangkan bila menunggak sebentar saja aliran air bisa langsung terhenti.
         Dari tahun ke tahun populasi manusia di jakarta terus meningkat , dan diikuti oleh tingkat konsumsi para manusianya itu sendiri. Ketika populasi meningkat maka masalah pun akan meningkat walaupun berarti untuk bisnis juga berarti bagus karena potensial buyer akan lebih besar, tetapi hal ini tidak didasari oleh kesadaran manusianya itu sendiri serta penegakan hukum yang tidak konsisten serta aparat yang kurang tegas dan disiplin serta jumlah yang kurang memadai (bahkan ada oknum aparat yang juga berlaku sama dengan warganya yang suka nyampah sembarangan).
         Seperti yang selalu kita ketahui peraturan dibuat supaya suatu daerah bisa memberikan kenyamanan dan keamanan untuk manusia yang berada di dalamnya. Tetapi yang saya tahu di Indonesia ini kalau peraturan itu dibuat untuk dilanggar, karena kalau tidak dilanggar berarti tidak gaul. Ini yang jadi masalah besar di negara ini. Padahal kalau kita renungkan sebentar saja sebetulnya peraturan itu membantu kita bahkan bisa menolong kita disaat tertentu yang sangat penting bagi kita.
          Sebagai contoh bila Yang Maha Kuasa tidak membuat peraturan dan tidak mendisiplinkan aturannya maka dunia tempat kita tinggal ini bisa jadi apa, matahari selalu terbit dan disebut pagi hari dan pada saat pagi itu angin dari laut ke darat, nah kalau para nelayan mencoba melanggarnya dengan mencari ikan pada siang hari karena lebih nyaman ,terang dan bisa liat ikan yang mau ditangkap maka hasilnya adalah perlu tenaga ekstra karena melawan arus angin, dan ikan ada di dasar laut karena suhu air di bagian atas sangat panas, memang ada yang bisa yaitu dengan membuat keramba apung di laut sehingga bisa menangkap ikan setiap saat tetapi untuk jenis ikan tertentu akan sulit diperoleh.
          Sama dengan peraturan “Tolong jangan buang sampah sembarangan” atau “Jaga agar kali kita tetap bersih”, tujuannya adalah supaya lingkungan sekitar tetap bersih sehingga polusi atau debu tidak mengganggu kesehatan kita , juga supaya sungai/kali tidak jadi kotor dan terkontaminasi dengan cairan yang berbahaya.
         Tetapi yang lucu-nya di Jakarta (saya tidak tau di  daerah lain, mungkin juga bisa sama tetapi juga bisa pula berbeda), jumlah manusia yang “sadar” kebersihan makin bertambah jumlahnya, bukan saja yang tinggal di bantaran kali atau di perkampungan padat , tetapi merambah ke perumahan mewah atau lingkungan eksklusif. Mereka seringkali membuang sampah sembarangan supaya “lingkungan” mereka sendiri tetap bersih dan nyaman, padahal ini adalah tindakan yang bodoh karena tidak disiplin juga tindakan yang bodoh untuk mengeluarkan biaya yang lebih besar.
        Ketika suatu waktu di sebuah taman ada serombongan ibu2 beserta anak mereka yang masih tk berjalan pulang setelah mengikuti sebuah acara tentang lingkungan hidup.”Bu udah abis nich minumannya , dibuang kemana botolnya?”, tanya si anak, lalu si ibu bilang”Udah lempar aja di rumput”, dan si anak langsung melakukkannya dengan wajah innocence-nya . Kalau 1 orang tua saja sudah mengajarkan anak umur 7 thn melakukan hal seperti itu, bayangkan saja kalau 1000 orang tua yang melakukan lalu ketika anak itu bertumbuh dan dia mempunyai anak lagi dan melakukan yang sama bayangkan berapa kali lipat jumlah sampah yang tdk terangkut setiap harinya.
Lalu kalau ada yang bilang bagaimana dengan pemda dan dinas kebersihannya, jumlah petugas dan peralatan selalu lebih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk di suatu daerah, kalau tidak dibantu bagaimana bisa menjaga daerah itu nyaman untuk ditinggali.
Makin jorok makin miskin,
        Coba telaah kata-kata ini , kok bisa begitu, begini contohnya, kalau ada 1 keluarga kelas menengah tinggal di suatu lingkungan perumahan padat di tengah kota , dengan pendapatan diatas nilai umr 2013 dengan 1 mobil , 1 motor dan 2 lantai rumah serta pembantu. Di dalam kesehariannya keluarga ini berlaku jorok, buang sampah di luar rumah, bahkan dibuang ke got, lalu sebagian ada yang di masukan ke tong sampah, di dalam rumah memang bersih dan selalu dijaga, tetapi di luar ketika si ayah setelah selesai merokok lalu puntungnya dibuang ke jalan, si anak ketika membeli es bungkusnya dibuang ke got, si ibu beserta pembantunya setelah menyapu sebagian tidak diangkat tetapi dibuang ke got, begitu pula bila ada tinta isi ulang atau cairan kimia non-food lainnya dibuang ke got bukan dimasukkan ke tong sampah.  Pada saat2 awal tidak akan terasa bahwa biaya itu akan semakin meningkat , yang pasti terlihat adalah air minum yang pada tahun-tahun sebelumnya cukup bersih dan biayanya murah tetapi pada saat2 sekarang ini mulai meningkat dan airnya pun tidak selancar sebelumnya, warnanya suka keruh bahkan terkadang ada cacing2 kecil yang terselip masuk ke bak tampungan,  sehingga keluarga ini harus membeli saringan air lagi untuk menyaring airnya supaya lebih bersih, hal ini berarti menambah biaya lagi.
        Bila kita lihat saja contoh kecil ini dan kalkulasi dengan baik, bagaimana kita bisa mandiri dalam pengelolaan air bersih, bagaimana kita bisa mendapatkan air bersih dengan biaya murah, bagaimana kita bisa menjadi keluarga sejahtera, bagaimana kita bisa mendapatkan biaya lebih untuk ditabung untuk masa tua kita, atau bahkan bagaimana kita bisa menyekolahkan anak-anak kita di perguruan tinggi? dan masih banyak bagaimana lagi bila kita tidak merubah sikap hidup kita untuk merawat air.
      Lalu siapa yang diuntungkan bila kita tidak mengubahnya? Yang pasti si Swasta asing itu, karena dengan alasan bahan baku air yang makin kotor sehingga harus ditambah cairan pemurni airnya lebih banyak dan disini seperti kita ketahui banyak celahnya untuk mengeruk keuntungan lebih besar, lalu kita salahkan si Swasta itu? Sulit untuk membuktikannya, kemudian siapa lagi, ya oknum-oknum pejabat yang dekat dengan perusahaan itu , lalu siapa lagi, ya yang terakhir adalah para pengusaha yang melihat ada peluang usaha dari kesulitan akan air bersih ini.
        Lalu rakyat banyak bagaimana? Ya kesimpulannya adalah bila rakyat selalu menuntut untuk ditingkatkan kesejahteraannya, coba untuk membaca artikel ini, dan lakukan tindakan untuk jaga kebersihan dan tegur yang melakukan pelanggaran. Dan lihat hasilnya, bila air sungai telah bisa terlihat dasarnya dan sampah tidak menumpuk lagi di pintu-pintu air, tetapi biaya air masih mahal maka rakyat bisa menuntutnya dan bila biaya ini bisa turun, bayangkan kesejahteraan yang bisa diperoleh. Bahkan bisa dinikmati oleh rakyat kalangan bawah karena mereka pun akan dapat kesehatan lebih baik sehingga taraf hidup mereka akan lebih meningkat, yang tadinya kesehatan mereka buruk tetapi ketika lingkungan dan air telah bersih maka hidup mereka lebih sehat dan lebih produktif sehingga hasil yang diperoleh dari pekerjaan mereka pun lebih meningkat. Makin Bersih Makin Kaya.
        Makin Disiplin Makin Pintar, Setelah kita bisa membuat lingkungan bersih maka selanjutnya yang kita lakukan adalah mendisiplinkan diri supaya tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Ketika hidup kita semakin disiplin maka kita pun akan semakin pintar terutama pintar menggunakan waktu. Contohnya ; Ketika kita sudah disiplin tidak membuang sampah sembarangan , maka sampah yang telah dibuang ditempatnya itu akan dibawa ke TPA (tempat pembuangan akhir) dan disana mulai disapih dan sisanya akan dikubur, yang telah disapih itu akan didaur ulang , dan hasil dari daur ulangnya adalah kesejahteraan dan mengurangi barang sisa. Kita juga bisa disiplin dalam penggunaan kertas bungkus atau plastik bungkus , semakin kita bisa menguranginya maka akan semakin dikit sampah yang dikeluarkan.
         Lalu makin pintarnya dimana? Nah disinilah makin pintarnya, setelah kita tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan pembungkus, maka kita akan semakin kreatif dan pintar dalam cara menghemat pengeluaran kertas pembungkus, dan kita pun akan semakin pintar dalam mengatur keuangan kita baik dalam menghemat ataupun dalam pengeluaran. Setelah itu hal-hal pintar lainnya akan menyusul, karena polusi yang semakin menurun sehingga udara juga semakin bersih dan air pun semakin baik, maka hidup kita akan semakin sejahtera dan sehat.

        Buku  ini ditulis karena saya merasa terbeban untuk menyampaikan kepada masyarakat luas, bahwa kemiskinan dan kebodohan bukan hanya dari pengaruh atau tekanan luar , tetapi lebih daripada prilaku pribadi dan gaya hidup yang tidak tepat. Bila pemerintah selalu dituntut itu sudah merupakan tugas rakyat, tetapi rakyat yang Smenuntut juga harus menjadi rakyat yang tau tanggung jawab dan kewajibannya. Karena pemerintah tidak akan pernah ada tanpa adanya rakyat.

       Marilah mulai saat ini kita bersama mensejahterakan diri kita dan orang sekitar kita dimulai dengan merawat lingkungan kita, dengan membuang sampah ditempatnya dan tidak mengotori sumber-sumber bahan baku air dengan bahan2 kimia yang beracun.Semoga buku ini bisa membantu dan bersama kita akan mampu menolong diri sendiri dan orang lain.
Salam Sejahtera. God Bless You All. Assalamu’alaikum.

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook