Monday, July 7, 2014

Mengapa umat Islam mundur Karena persatuannya, mudah dilebur



MENGAPA UMAT ISLAM MUNDUR


Mengapa umat Islam mundur
Karena persatuannya, mudah dilebur
Kekuatan dagangnya, sudah terkubur
Penguasaan Ipteknya, sangat kendur.
 


 

Website BBC, Senin 17/2/2014 melaporkan bahwa “Pasukan Afrika di bawah Misi Bantuan Internasional untuk Republik Afrika Tengah (the International Support Mission for Central African Republic - MISCA) berhasil mengevakuasi sekitar 2.000 orang muslim yang melarikan diri dari negerinya ke Kamerun. Mereka lari menyelamatkan diri dari serangan milisi Kristen. Koresponden BBC layanan Hausa yang menyertai tentara Rwanda mengatakan bahwa konvoi yang membawa para pengungsi diserang oleh milisi anti balaka menggunakan senapan, tombak, panah, pisau, batu dan pedang.”

Sejumlah laporan melaporkan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang kristen terhadap kaum Muslimin dan jasad mereka dimutilasi, bahkan daging mereka dimakan mentah-mentah. BBC pada 13/1/2014 mempublikasikan hasil investigasi detil tentang “perilaku kanibal orang memakan daging jasad musuhnya sebagai pembalasan dendam.” Saksi menegaskan bahwa lebih dari 20 orang memaksa sopir menghentikan kendaraan. Kemudian mereka menarik seorang laki-laki muslim ke jalan lalu dipukuli, ditikam dan dihantam batu kepalanya kemudian ditembak. Lalu segera saja salah seorang dari mereka memotong kaki korban itu dan memakannya mentah-mentah. Mereka merayakan kejahatan brutal itu. Mereka berkumpul di sekitar laki-laki pembunuh itu, menyalaminya dan menepuk-nepuk kepalanya sebagai seorang pahlawan. 

Amnesty Internasional dalam laporannya pada Rabu (12/2), menyatakan telah mendokumentasi lebih dari 200 kasus pembunuh terhadap umat Islam yang dilakukan milisi Kristen. Sejak Desember tahun lalu, milisi Kristen telah melakukan serangan terkoordinasi. Lebih dari 1000 orang muslim terbunuh.
Hal yang senada dinyatakan Human Right Watch (HRW) pada Rabu (12/2). Lembaga HAM ini menyatakan, populasi minoritas Muslim di negara itu telah menjadi sasaran gelombang kekerasan terkoordinasi tanpa henti. Umat Islam dipaksa untuk meninggalkan negara itu.
Antonio Guterres, kepala Badan Pengungsi PBB, mengatakan, dia telah melihat bencana kemanusiaan dengan proporsi tak terkatakan di Afrika Tengah. Ia menyebut yang terjadi sebagai “pembersihan massif etno-religius.”

Pembantaian ini dilakukan secara sadis yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia normal. Secara terbuka, pendukung milisi Kristen memakan daging seorang muslim yang mereka bunuh. Wanita-wanita muslimah juga diperkosa. Rumah-rumah dan masjid dibakar dan dihancurkan. Penyiksaan terhadap muslim dilakukan di jalan-jalan secara terbuka. Mereka melakukan kebiadaban ini dengan wajah yang gembira dan penuh kesombongan.
Sistem Internasional Mandul
Apa yang terjadi di Republik Afrika Tengah menunjukkan bahwa sistem dan dunia internasional setiap kali menjadi mandul jika musibah bahkan insiden kemanusiaan terjadi atas kaum Muslimin. Seperti biasa Baratpun tidak begitu peduli dengan apa yang menimpa umat Islam. Sistem internasional ala kapitalis dengan organ PBB-nya gagal. Amnesty International menilai, pasukan perdamaian internasional, telah gagal menghentikan pembantaian yang terjadi. Pasukan itu dianggap tidak melakukan tindakan yang nyata untuk mencegah muslim cleansing atau pembasmian muslim ini.
Kehadiran pasukan Prancispun ditolak umat Islam. Ribuan umat Islam melakukan unjuk rasa di Ibu kota Bangui setelah terjadinya pembunuhan tiga orang muslim yang dilakukan oleh tentara Perancis. Pasukan yang dikirim oleh Perancis dengan klaim mensuport pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika dalam menghalangi kekerasan justru menampakkan sikap bias sepenuhnya berpihak kepada para salibis pembunuh dalam hal kejahatan mereka terhadap kaum Muslimin dan kesucian mereka. Meminta bantuan dan perlindungan kepada pasukan internasional justru menjadi ibarat pepatah meminta pertolongan dikeluarkan dari penggorengan dengan api. Nasib muslim yang meminta pertolongan justru ibarat lepas dari taring harimau masuk ke mulut buaya.
Berita tentang berbagai kebrutalan, kebengisan dan kejahatan itu hanyalah puncak gunung es dari kejahatan-kejahatan terhadap saudara-saudara kita kaum Muslimin di Republik Afrika Tengah, yang dilakukan oleh para salibis yang penuh kedengkian, musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin. Kaum Muslimin dibunuh dengan cara paling brutal, dipukuli secara menyakitkan hingga mati, dipotong organnya, dibakar hidup-hidup, dimutilasi dan dimakan mentah-mentah. Itu merupakan gambaran situasi yang dihadapi oleh kaum Muslimin di sana. Semua kejahatan itu terjadi dengan “kerjasama” pasukan Perancis, dengan kolusi internasional, dan kehinaan para penguasa muslim.
Kondisi kaum Muslimin di Afrika Tengah mirip seperti kondisi kaum Muslimin di Sebrenica pada tahun 1995, dimana lebih dari 8.000 rakyat sipil dibunuh dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita Bosnia secara terorganisir dilakukan di bawah pengawasan Pasukan Penjaga Perdamaian PBB dari Belanda. Situasi yang terjadi serupa dengan darah yang ditumpahkan di Suria oleh rezim Amerika, dan apa yang terjadi sebelumnya di Burma, Palestina, Kashmir, Turkistan Timur dan negeri-negeri Muslim lainnya yang dilanda bencana.
Buruknya Negara Bangsa dan Kehinaan Para Penguasa Muslim
Pembasmian Muslim itu terjadi sementara para penguasa muslim diam saja. Padahal ratusan ribu tentara, ribuan pesawat tempur, berbagai senjata modern ada dalam kendali mereka. Namun, semua itu nyatanya tidak digunakan demi kepentingan Islam dan membela kaum Muslim termasuk yang sedang tertindas sekalipun. Sikap itu merupakan kehinaan yang melekat di dahi para penguasa muslim itu yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.
Doktrin nasionalisme dan negara bangsa yang dibangun diatas doktrin itu telah membelenggu mereka. Dengan alasan, tidak berhubungan dengan kepentingan nasional, para penguasa negeri Islam tidak ambil pusing. Mereka tidak peduli dengan nasib muslim di Republik Afrika Tengah yang tengah dibasmi. Hal itu persis sama sebagaimana mereka tidak berbuat apa-apa terhadap penderitaan muslim Rohingya, Palestina, Irak, Turkistan Timur dan negeri-negeri Islam lainnya.
Belenggu Nasionalisme terbukti mengikis ukhuwah islamiyah dan kepedulian umat sehingga umat menjadi lemah. Negeri-negeri Islam pun dan umatnya menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis, meskipun umat Islam berjumlah lebih dari 1,5 milyar dan kekuatan militer sangat besar ada di tengah mereka.
Di atas doktrin nasionalisme itulah dibangun negara bangsa. Umat Islam menjadi terpecah belah dalam lebih dari lima puluh negara bangsa. Maka lengkaplah keterpecahan kaum Muslim. Umat Islam pun tidak lagi menjadi laksana satu tubuh. Umat Islam pun menjadi lemah dan tak berdaya.
Padahal umat Islam seharusnya menjadi laksana satu tubuh. Rasul saw pernah bersabda:

:«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal cinta, kasih sayang dan solidaritas mereka laksana satu tubuh, jika satu organ sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan demam.” (HR Muslim)
Semua ini menunjukkan betapa nasionalisme telah menjadi racun mematikan bagi umat Islam. Karena itu racun nasionalisme, sudah selayaknya dibuang jauh-jauh dari pemikiran umat. Nasionalisme dan ‘ashabiyah lainnya bukanlah identitas umat Islam. Rasul saw menegaskan:

« لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ »

“Bukan golongan kami orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan golongan kami orang yang berperang atas dasar ‘ashabiyah; bukan golongan kami orang yang mati di atas ‘ashabiyah.” (HR Abu Dawud, adh-Dhiya’, al-Baihaqi)

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook