Thursday, November 27, 2014

YANG TIDAK DIANGGAP BENAR SEBELUMNYA m.rakib lpmp riau penggemar tulisan Thomas Khun



YANG TIDAK DIANGGAP BENAR SEBELUMNYA

 
m.rakib lpmp  riau penggemar tulisan Thomas Khun


Thomas Samuel Kuhn (play /ˈkuːn/; 18 Juli 1922 – 17 Juni 1996) adalah seorang filsuf, fisikawan, dan sejarawan Amerika Serikat yang menulis buku The Structure of Scientific Revolutions pada tahun 1962 yang sangat berpengaruh dalam dunia akademik. Buku tersebut memperkenalkan istilah "pergeseran paradigma".
Kuhn membuat beberapa klaim mengenai perkembangan pengetahuan ilmiah: bahwa sains mengalami pergeseran paradigma dan tidak bergerak dalam jalur yang linear; bahwa pergeseran paradigma membuka pendekatan baru untuk memahami apa yang tidak akan dianggap benar sebelumnya;
KEGIATAN Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) yang diadakan oleh Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya pada 28-30 Agustus 2014 lalu, saat ini menjadi kontroversial. Munculnya sikap kontroversial itu karena tema kegiatan tersebut diangkat dengan tulisan spanduk: Tuhan Membusuk, Konstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan.
Tulisan spanduk dengan kalimat “Tuhan Membusuk”–ditulis di spanduk dengan huruf kapital tanpa tanda kutip–dianggap sebagai sikap meremehkan, perlawanan, dan bahkan penghinaan atas eksistensi Tuhan. Hal itu dipandang tidak biasa mengingat negara dan masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan. Terlebih lagi sila pertama dalam dasar negara kita (Pancasila) dengan tegas mengatakan bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam pandangan Islam sendiri, kata Tuhan menyangkut masalah yang sangat sensitif dan penting, yaitu masalah aqidah. Kata ini sering dilafazkan dalam do’a dan tercantum dalam Alquran dan hadis dengan kata Rabb. Meskipun kata Tuhan hanya terjemahan dalam Bahasa Indonesia, namun adab penggunaan dan pelafazannya tetap harus dijaga.
Perguruan Bukan Tinggikan Islam
Kasus spanduk “Tuhan Membusuk” kembali memunculkan pertanyaan dan kritik terhadap metode dan kurikulum studi agama di perguruan tinggi Islam: IAIN, UIN, STAIN, dan kampus-kampus semisalnya. Sudah lama pendidikan Islam di perguruan tinggi Islam dianggap salah arah. Semangat pendidikan Islam tidak lagi mengisi relung jiwa yang melahirkan adab dan akhlak, tetapi mengisi ruang akal an sich dan agama hanya dijadikan ajang perdebatan saja.
Hal ini tidak heran, karena metodologi studi agama tidak mengacu kepada framework ulama-ulama salaf yang telah berjasa meletakkan dasar pondasi keilmuan, pembelajaran, dan pemahaman agama Islam dengan baik, tetapi mengacu kepada studi kaum orientalis Barat. Dr Adian Husaini menyimpulkan dalam bukunya Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (2006), bahwa arah studi Islam di perguruan tinggi Islam saat ini mengarah kepada framework orientalis.
Metodologi dan penggunaan istilah-istilah Barat yang dipakai dalam studi Islam pada akhirnya melahirkan sarjana-sarjana kampus, intelektual, cendekiawan, akademisi, dan ilmuwan Muslim yang berani menggugat otoritas agama. Meskipun Muslim, anehnya sebagian mereka bukannya memberi sumbangsih untuk kemajuan pendidikan Islam, sebaliknya menggerus nilai-nilai Islam dari pendidikan itu sendiri. Meminjam ungkapan (Alm) Kuntowijoyo mereka terlahir sebagai sarjana “Muslim tanpa masjid”.
Ungkapan Muslim tanpa masjid dipahami sebagai Muslim yang kehilangan identitas dan ghirah keislamannya. Dalam persoalan studi agama Islam misalnya, yang seharusnya khazanah keilmuannya berkiblat ke Timur Tengah malah kiblatnya berubah ke Barat atau Eropa. Perubahan arah kiblat ini, menurut Dr Abu Hafsin MA (2005) ditandai dengan pengiriman para dosen muda ke berbagai perguruan tinggi di Amerika Utara, Eropa, dan Australia pada akhir dekade sembilan puluhan.
Kurang Adab Karena Studi Barat
Maka tidak heran kalangan akademisi alumni Barat dan Eropa ini kemudian banyak yang terjebak dengan fatamorgana faham ‘sepilis’ alias sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme. Ironis memang, perguruan tinggi Islam yang diharapkan melahirkan cendekiawan Muslim yang mencintai ilmu dan pembela syariat Islam justru melahirkan sarjana yang aktif menggugat otoritas agama bahkan menyalahkan Tuhan.
Dalam Jurnal JUSTISIA Edisi 25, Th XI, 2004 yang diterbitkan sekumpulan mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang yang bertajuk Indahnya Kawin Sesama Jenis, di bagian kata pengantarnya ditulis: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”
Artikel-artikel dalam Jurnal tersebut kemudian dibukukan dengan Judul “Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual” (Semarang: eLSA, 2005). Salah seorang penulis dalam buku ini menyatakan bahwa, pengharaman nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia hanya memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada pembacaan ulang secara kritis atas doktrin tersebut.
Bahkan seorang tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Luthfie Assyaukani, pernah menulis: “Beranikah kita menggunakan hasil pemahaman kita sendiri berhadapan dengan pandangan-pandangan di luar kita? Misalnya berhadapan dengan Sayyid Qutb, Al Banna, Qardhawi, Nabhani, Rashid Ridha, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Taimiyyah, Al Ghazali, Imam Syafi’i, Bukhari, para sahabat, dan bahkan bisa juga Nabi Muhammad sendiri.” (Dr. Adian Husaini, 2006).
Diingatkan
Salah seorang tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (
 dan bahwa gagasan kebenaran ilmiah tidak hanya melalui ditetapkan kriteria objektif tetapi juga konsensus komunitas ilmiah. Paradigma-paradigma yang saling bertentangan tersebut juga seringkali tidak sepadan, atau dalam kata lain paradigma-paradigma tersebut merupakan penjelasan mengenai realitas yang saling bertentangan dan tidak dapat diselaraskan.
Kepopuleran sangat menarik dan diminati manusia pada umumnya. Kepopuleran membuat seseorang menjadi bangga dan merasa lebih dari orang lain. Itulah segala cara, baik dalam arti positif maupun negatif untuk meraihnya. Dalam berbagai bidang hal ini ada.
Kepopuleran dapat membuat seseorang melambung tinggi, tapi juga bisa menjadikannya tenggelam dalam jurang yang menyedihkan.
Sebagai orang tua tentu kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Pintar dan dapat dibanggakan. Untuk itulah kita akan menjaga dan mendidiknya dengan cara yang terbaik.
Namun sebagai orang tua sering tanpa menyadari apa yang dianggap yang terbaik itu justru meracuni anak sendiri.
Kita berpikir itu sebagai cara untuk mengungkapkan kasih sayang. Sayangnya hal itu malahan membuat anak-anak tidak bertumbuh.
Kebahagiaan itu akan datang saat engkau sanggup meletakkan segala kerisaipuan. Engkau dapat melepaskan keinginan-keinginan dan kemelekatan pada segala yang berbentuk.
Kebahagiaan itu akan selalu ada saat engkau sanggup mengubah pikiran dan sudut pandang terhadap hidup ini.
Bila relung-relung pikiranmu diisi oleh benih-benih kedamaian, maka ada kebahagiaan. Sebaliknya bila engkau isi dengan kerisauan, makan penderitaanlah yang ada.
Pikran adalah pengendali kehidupan. Pikiran bagaikan nahkoda yang mengomandaoi kapal di tengah lautan. Ia yang berkuasa. Begitulah pikiran menahkodai kehidupan manusia.
Kita lupa, bahwa ada yang lebih berkuasa daripada pikiran. Yakni Kuasa Tuhan. Seperti Nahkoda ada yang berkuasa atas kuasanya.
Tanpa sadar banyak di antara kita membiarkan pikiran berkuasa menghalangi Kuasa Tuhan bekerja atas hidup kita.
Kadang apa yang kita anggap kurang berharga, sungguh menjadi sangat berharga bagi orang lain. Yang lebih dahsyat hal itu dapat mendatangkan kebahagiaan bersama. Inilah nilai kehidupan dari memberi dan berbagi.
Andaikan rasa malu yang mendahului kita ketika hendak melakukan kesalahan. Bukannya hadir setelah kesalahan terjadi, maka hidup kita akan terhindar dari banyak kesalahan yang sia-sia.
Mengucapkan terima kasih memang mudah. Tapi tidah semudah yang kita kira. Sebab tidak sedikit yang masih sulit untuk mengucapkannya.
Belum lagi soalnya nilainya. Apakah hanya sekadar mengucapkan atau berasal dari ketulusan hati? Tentu kita yang bisa menilai.
Sejatinya kita memang perlu melatih diri kita, agar tidak terjebak pada amarah setiap hari. Namun adalah pilihan realistis ketika kita tidak bisa menghentikan amarah itu dengan membuangnya dan melupakan pada saat hendak tidur.
Manusia jaman kekinian lebih sibuk memperindah penampilan dan lebih mengisi otaknya dengan segala ilmu. Kebanyakan lupa untuk mengisi jiwanya yang gersang dan melompong. Karena pandangan yang salah.
Hidup adalah perjalanan penuh dengan beban dan masalah. Tidak mungkin akan lancar selamanya. Pasti ada masa-masa susahnya. Memahami hal ini, tentu kita akan menyiapkan diri menghadapi semua itu tanpa keluh-keluh. Karena kita percaya, bila waktunya semua akan berlalu.
Seperti bumi yang kita huni ini. Alam telah mengajarkan, tidak selama akan ada musim kemarau. Akan ada waktunya berlalu dan berganti musim hujan yang menyejukan.
Menghamba kepada Kekuasaan Tuhan adalah kemuliaan, sedangkan menghamba kepada kekuasaan manusia adalah kehinaan.
Mengakui Keberadaan Tuhan dalam segala lalku adalah keimanan, sedangkan mengakui keberadaan manusia adalah segalanya itu adalah kebodohan.
Membiarkan anak berbuat kebaikan adalah cara memupuk budi pekertinya. Mengajarkan anak untuk hidup berbagi, maka ia akan mengerti makna hidup ini.
Melihat suatu masalah jangan hanya menggunakan pemikiran dan standar diri sendiri. Sebab itu akan memudahkan kita terjebak dalam kesalah-pahaman. Perlu kejernihan pikiran untuk memahami secara jelas dan luas sebelum menyimpulkan.
Kebenaran yang sederhana. Namun tidak seserhana dalam kenyataan. Bahwa memiliki hati yang bersyukur adalah paling membahagiakan. Di dalam penderitaan dan kesedihan masih dapat memiliki hati yang bersyukur merupakan kearifan tertinggi.
Di saat didera kesedihan dan penderitaan, orang-orang awam malahan pergi melarikan diri dengan mencari hiburan. Minum arak atau mendengarkan musik sendu. Padahal semua itu akan semakin melemahkan jiwa.
Berusahalah agar dapat menjadi arus yang bersih di dalam keruhnya dunia fana ini dan menjadi seberkas cahaya di dalam kegelapan yang penuh angin dan hujan.
Berusahalah menjaga pelita nurani yang masih samar-samar menyala. Jagalah kesadaran seperti tatkala berjalan di pinggir jurang yang licin.
Mengapa kita memperlakukan diri kita dengan standar ganda? Untuk urusan jasmani kita begitu rajin menjaga kebersihannya. Namun untuk urusan hati malahan mengabaikannya.
Umat beragama lupa sejati ajaranya. Melatih untuk mengecilkan ego. Yang pada muaranya untuk menemukan kebenaran sejati yang bernama Hati Nurani.
Betapa indahnya. Bila setiap pemeluk agama dapat menemukan kesadaran bahwa agama sejati yang wajib dipeluk itu adalah nurani. Sumber kebenaran tertinggi untuk menyatukan diri dengan Sang Maha Tinggi.
Hidup memang bukan sekadar pilihan. Yang terpenting adalah memiliki hati untuk menerima segala keadaan setelah berusaha dengan kemampuan yang ada.
 “Bila bisa tenang dalam menghadapi masalah, maka pasti bisa menerobos kesulitan sebesar apapun. [Sang Guru]
#KITAB SUCI
sebab kemalasan
kitab suci jadi pajangan atau sekadar bacaan
harta berlimpah pun jadi sia-sia
kata-kata sejuta makna menjadi hampa

#KEBAHAGIAAN
karena ketidak-pahaman
manusia mencari-cari kebahagiaan
rela sampai ke ujung dunia
ternyata bahagia itu ada di dalam hatinya
#TUHAN
karena kebodohan pun kepintaran, manusia tiada lelah dalam perdebatan, menciptakan tuhan sesuai pemikirannya, tuhan pun menjadi berhala

#AGAMA
sebab ketidak-mengertian, kebanggaan yang berlebihan, kefanatikan, kaum agama buta, tak dapat memahami indah ajarannya yang penuh cinta
#CINTA
karena ketidak-tahuan, lupa diri dan keegoisan, manusia menjadi buta, tak dapat menikmati indahnya cinta

 [Jangan bertengkar hanya untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita masih bisa berdebat atau berdiskusi baik-baik. Kita tidak pernah layak atau berharga untuk bertengkar demi untuk mengorbankan kebaikan hati.| Ajahn Brahm]



No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook