Sunday, March 8, 2015

.DOSA-DOSA SELAMA KULIAH PROGRAM DOKTOR



BAGIAN KE 16 NOVEL EMPAT PROFESOR SATU CINTA
Karya M.Rakib
DOSA-DOSA SELAMA MENGIKUTI PROGRAM DOKTOR

Proesor  Raffi           :   Apa dosa anda selama kuliah  di S 3 ?

Sang Penyair          :   Aku tidak bisa ikut gotong royong, menjenguk orang sakit, dan pengajian, semua waktuku tersita untuk memperbaiki disertasi empat tahun lamanya berulang-ulang. Kebun sawitku terpaksa digadaikan. Kebun kecil kesaayanganku yang biasanya kutaanami bunga, terbiar begitu saja, ditumbuhu ilalang dan rumput liar berduri. Wirid pengajian semuanya ditolak. Menghonor di Perguruan tinggi, terpaksa dihentikan.

        Sang penyair merasa iri,dan sedih hati, mengapa orang lain dalam waktu singkat, bisa dapat gelar doktor, seadangkan aku 13 tahun belum selesai juga, Ya Allah malangnya nasibku. Di surat kabar banyak berita tentang, cara meraih Gelar Doktor Sesingkat-singkatnya dengan Biaya Murah Meriah, Mau ?

       Waktu dirasakan berlalu begitu cepat seperti berlari saja. Tanpa terasa zaman  telah berubah,  memasuki  tahun  baru.  Yang namanya kuliah di S 3 belum juga selesai. Anak-anak semakin bertumbuh besar dan sudah naik ke kelas berikutnya. Ada yang sudah lulus sekolah, ada juga yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Apakah teman-teman sudah memiliki rencana untuk pendidikan putra-putri tercinta ? atau mungkin teman- teman sendiri berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi ?. Merencanakan pendidikan memang gampang – gampang susah. Jika kita tidak bersikap teliti dan cermat, alih-alih mendapatkan pendidikan seperti yang diharapkan, justru kita terjerumus menjadi korban penipuan yang berkedok pendidikan.

TIGA BELAS TAHUN  DI  PROGRAM DOKTOR
SOAL BIAYA, SELALU  TEKOR
KEBODOHANKU  TIADA JADI PELOPOR
TERJEBAK DALAM, JERAT PARA PROFESOR
       Banyak tawaran kuliah S 3 luar negeri,  marak penawaran studi ke berbagai perguruan tinggi,di Australia dan Malaysia, dengan iming – iming biaya pendidikan murah dan fasilitas yang serba lengkap , Jika semua yang dijanjikan itu nyata, tentu saja tidak menjadi masalah karena memang itu yang dicari. Namun harap diingat, jika iming-iming itu sudah melampaui batas kewajaran dan tidak masuk di akal, maka ini merupakan sinyal merah tanda kita harus bersikap ekstra waspada terhadap bahaya penipuan yang sekilas tampak menggiurkan .
Kedatangan penipu yang mencengangkan 
      Hati-hati  tawaran penipuan intelektual, banyak dari  perguruan tinggi swasta di  Riau dan di Jakarta. Para penipu langsung diantarkan ke kantor, yang  ramai karena sedang jam istirahat. Ternyata  Humas itu bermaksud  menawarkan studi ke jenjang S2 dan S3.
        Banyak penjelasan yang sangat menakjubkan. Penjelasan yang membuat orang  terbengong-bengong, diam seribu bahasa. Do  no what to say. Merasakan bercampur aduknya perasaan di dalam hati. Tipuan apalagi  yangm kan datang? Antara ingin mentertawai keras-keras orang itu langsung di wajahnya, antara ingin melemparnya saja ke jalan, juga rasa prihatin saat menyadari betapa pendidikan di negeri ini sudah jatuh ke jurang bisnis yang sangat tidak bermoral ! . Saya tidak sudi lagi mendengar penjelasannya lebih jauh, dan memilih beranjak masuk ke kelas. Tak lama kemudian dari kejauhan kulihat Pak Humas yang berpenampilan gaya itu digiring  oleh Security ke luar gerbang. Baguslah. Tahukah teman- teman, apa yang dia tawarkan ? Perkuliahan murah meriah !

Kuliah instant dengan kelas jauh bohong-bohongan
 
Dengan gayanya yang menawan, orang  itu tanpa tedeng aling-aling menawarkan program perkuliahan yang sangat fantastis. Fantastis dari segi lama perkuliahan, dari segi kemudahan pelaksanaan, dan dari segi pembiayaan. Dengarlah penjelasannya itu :
Untuk program studi S1, biayanya cukup 17 juta, program Magister dihargai 20 juta, dan  untuk program Doktoral silahkan mengeluarkan uang 30 juta rupiah saja. Semua jenjang pendidikan memakan waktu yang sama, yaitu 3 bulan.

PENIPUAN APA LAGI YANG KINI DATANG
PELACUR INTELEKTUL, TERANG BENDERANG
LUPA MORAL, BAGAIKAN BINATANG
PETUNJUK AGAMA, TIDAK LAGI DIPANDANG
          Msssa'  untuk mendapatkan gelar keserjanaan, tidak perlu menyusun Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Pokoknya uang segitu sudah all in. Waktu perkuliahanpun bisa diatur, kalau ada waktu silahkan kuliah, kalau tidak ada waktu boleh titip absen. Gampang kan ? . Ada lagi yang lebih asyik,
kami tak perlu jauh- jauh datang ke Jakarta untuk menjalani perkuliahan. Cukup di sebuah tempat di dekat-dekat sini saja, itu juga kalau ada waktu. Namanya juga kelas jauh, ya wajar kalau ruang kuliahnya jauh banget dari kampus pusat. 
          Ada pengakuan seseorang di  surat kabar, katanya begini:  "Saya kenal dengan seseorang yang entah karena kurang wawasan atau tergoda apa gitu, akhirnya terjerumus mengikuti perkuliahan abal-abal ini  dan menjalani perkuliahan di kelas jauh." Bayangkan saja. Teman saya itu, tempat tinggalnya di Cisolok, sebuah kecamatan di pelosok Sukabumi  Jawa Barat dekat dengan pesisir pantai Selatan, sementara kampus pusatnya di Surabaya ! . Entah mungkin dia mendapat hidayah atau mungkin juga dia kejedot di kepala dengan kerasnya hingga tersadar dari amnesia,  akhirnya dia menyerah dan berhenti menjalani program kuliah abal-abal ini
Kampus, Dosen , ijazah, semuanya aspal
         Ada lagi  pengakuan yang mengatakan "Saya teringat berita setahun lalu, tentang keberhasilan pihak berwajib di Jawa Timur menggulung sindikat pembuat  ijazah palsu dan perkuliahan palsu . Melihat modus operandinya,  para kriminal itu jelas melakukan aksi jahatnya dengan sangat profesional dan terstruktur, yang melibatkan orang-orang dari dalam kampus yang memang sangat menguasai pekerjaannya."
   
         Kata pengkauannya, untuk meyakinkan mangsanya, komplotan penipu ini menghadirkan dosen betulan ke ruang kuliah. Tentu saja sang dosen inipun adalah anggota komplotan yang aslinya memang  mantan dosen sungguhan di sebuah PTN di Jawa Timur. Dosen penipu ini akan datang di satu atau dua kali pertemuan saja, dan selanjutnya akan digantikan oleh oknum yang bertugas sebagai  dosen pengganti, atau tidak ada perkuliahan sama sekali.
Selanjutnya mahasiswa abal-abalpun tinggal menunggu waktu wisuda. Bagaimana dengan Skripsi, Tesis, dan Disertasi ? tenang saja, sebelum mendaftarpun, semuanya sudah jadi kok. Tinggal copas, ganti judul sedikit-sedikit, hapus nama, ganti dengan nama baru, beres sudah. Teknologi percetakan sudah canggih ini. Tinggal wisuda deh, itu juga kalau mau. Toh kalaupun mau, kampusnya juga entah dimana. Tapi wisuda kan tidak terlalu penting, yang penting ijazah sudah ditangan.
Nah inilah masalahnya. Kalau anda mengira bahwa itu ijazah palsu, maka anda setengah benar. Karena yang benar adalah, itu ijazah aspal, alias asli tapi palsu !  Asli kertasnya, asli tanda tangan rektornya, asli capnya, dll, semuanya asli. Ya tentu saja asli, karena melibatkan oknum yang memang bekerja di institusi perguruan tinggi yang namanya dicatut. Namun semua  itu palsu, karena semua proses dan standar nya palsu alias ilegal !         ( kompas.com)
Membohongi diri sendiri pasti sangat menyiksa batin
Pak Humas itu mungkin hanya salah satu contoh, atau miniatur, atau potret yang sesungguhnya dari masyarakat yang tengah dilanda sakit mental. Dalam masyarakat yang seperti ini, kejujuran dan rasa malu sudah menjadi barang yang langka bahkan mungkin tidak dikenal sama sekali.   Kecurangan dan keculasan sudah begitu parah mewarnai kehidupan masyarakat, hingga merangsek ke dunia pendidikan. Sebuah institusi yang seharusnya menjadi gerbang penjaga kejujuran sebuah bangsa.

Jika seseorang merasa bangga dengan selembar ijazah yang didapat dengan jalan haram , merasa bangga menyandang gelar akademik berderet panjang padahal semuanya dusta  belaka , merasa bangga dengan nilai-nilai yang tertera di kertas ijazah, sementara kita tidak menjalani proses pendidikannya sama sekali , merasa jumawa dengan jabatan publik yang diraih dengan menyertakan ijazah palsu, kemungkinan besar dia mengalami gejala gangguan jiwa.
Boleh jadi seseorang akan sukses melenggang mendapatkan jabatan publik atau menjadi apa saja yang dia mau dengan uang yang dimiliki dan ijazah palsunya. Namun siapa yang dapat membohongi Allah dan mendustai hati nurani ? sampai kapan dia akan bertahan dengan dustanya jika suatu saat rekan-rekan, keluarga, atau anak-cucunya bertanya, dulu sekolah dimana, kuliah dimana ? siapa gurunya , siapa dosennya, siapa teman seangkatannya ? mengapa tidak pernah menceritakan kehidupan saat sekolah dan kuliah dulu ?
Oh ya tentu saja sangat mudah menjawab semua pertanyaan itu : karang saja sebuah kebohongan baru. Namun sekali lagi, sampai kapan dia akan mempertahankan kebohongannya itu ? sampai mati ?
Pendidikan harus diperlakukan dengan benar dan jujur
Pendidikan adalah dunia formal yang serius.  Kesungguh-sungguhan dalam menempuh pendidikan sangat menceriminkan kemampuan seseorang berkomitmen dalam hidupnya. Jika kita ingin melihat apakah seseorang telah menjalani pendidikan dengan benar dan jujur , maka lihat saja kualitas hidupnya.
Ketika seseorang berhasil meraih kesuksesan dalam hidupnya, berbahagia dalam kehidupan sosialnya, seimbang dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, maka dapat dipastikan, di masa mudanya ia telah menempuh pendidikan dengan sangat tekun dan serius. Artinya, jika kita mengharapkan anak-anak kita dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidupnya, maka berilah anak-anak kita pendidikan yang benar dan jujur. Ajarilah juga anak-anak kita memandang dan memahami, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat berharga dan sangat mulia, sehingga mereka menjalani pendidikan dengan penuh kesungguhan hati dan jujur.
Jangan mengartikan pendidikan hanya sebatas kegiatan belajar mengajar antara Guru dan Murid di dalam kelas. Terlalu sempit jika mengartikan pendidikan sebatas itu. Alam yang terbentang luas ini, dengan segala ciptaan Nya adalah Guru dan gudang ilmu bagi kita dan anak-anak kita. Reguklah ilmu sebanyak-banyaknya, dengan cara yang benar dan jujur. Karena pendidikan itu bukan hanya tuntutan kemanusiaan, namun juga perintah Allah bagi umat yang mempercayai Nya.
Akhir kata, di awal tahun ajaran baru ini, berhati – hatilah dengan penawaran pendidikan instant yang hanya bermaksud menipu. Dan bagi yang tergiur, saya hanya dapat berkata, berhentilah membohongi diri sendiri, tak akan kuat kita menanggung laranya seumur hidup. Tak akan kuat pula kita menanggung akibatnya di akhirat nanti.
Demikian teman-teman,  semoga bermanfaat. Semoga Allah senantiasa menjaga kita agar senantiasa bersikap benar dan  jujur.
“Desainlah sesuatu yang dibutuhkan banyak orang.” (Prof. IGN Wiratmaja Puja)
“Mending ga lulus sekalian daripada hampir lulus. Hampir lulus = ga lulus, tapi lebih sakit hati rasanya.” (Prof. Bambang Sutjiatmo)
“Anda tidak akan bisa mengendalikan sesuatu yang Anda tidak bisa ukur.” (Dr. Zainal Abidin)
“Membuat suatu sistem yang semula tidak teratur (Entropi +) menjadi teratur (Entropi -) memang tidak bisa dilakukan secara spontan. Seperti membuat mahasiswa yang semula malas belajar menjadi rajin belajar.” (Dr. Nathanael P. Tandian)
“Hidup di Indonesia itu seperti surga karena kita tidak mungkin meninggal karena cuaca dingin, tapi sebaiknya jangan berurusan dengan Polisi atau Dokter.” (Dr. Zainal Abidin)
“Matematika itu ilmu atau bukan? coba cek singkatan MIPA (matematika dan ILMU pengetahuan alam)!” (Prof. Bambang Sutjiatmo)

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook