Tuesday, March 10, 2015

TERPISAHNYA HUKUM DARI MORAL



 PENGGUGAT ORANG TUA
AKIBAT TERPISAHNYA HUKUM DARI MORAL

Catatan M.Rakib Pekanbaru Riau Indonesia 2015

                                                                                           Wahai ananda kekasih ibu
                                                                                           Mengaku salah janganlah malu
                                                                                           Memaafkan orang jangan          menunggu
                                                                                           Hati pemurah menjauhkan seteru

Wahai ananda dengarlah manat
Bersyukurlah engkau beroleh nikmat
Karunia Allah wajib diingat
Supaya hidupmu beroleh nikmat

                                                                                                   Kalau hendak mencari bekal
                                                                                                   Bersihkan hati sempurnakan akal
                                                                                                  Harta dicari pada yang halal
                                                                                                  Mana yang haram wajib ditinggal

Wahai ananda tambatan hati
Ingatlah pesan ayahmu ini
Berlaku adil engkau taati
Berlaku benar engkau ikuti

                                                                                                 Wahai ananda luruskan hati
                                                                                                Menolong jangan minta dipuji
                                                                                                Pendapat orang kita hormati
                                                                                               Petuah amanah kita turuti

Mahkamah Agung didesak untuk membebaskan Nenek Asyani (63), warga Dusun Secangan, Desa/Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo. Perempuan tua itu harus berurusan dengan aparat berwajib setelah dituding mencuri kayu milik Perum Perhutani.
Kasus penebangan tujuh batang kayu jati yang menyeret nenek Asyani itu terjadi sekira lima tahun lalu. Namun, pihak Perhutani melaporkan kasus ini pada Agustus 2014 lalu.  

 (Senin, 18.03.2013) Seorang nenek di Jember Jawa Timur, terpaksa harus berurusan dengan polisi, karena dituduh mencuri pohon, yang pernah ditanamnya sendiri. Ironisnya, sang nenek dilaporkan oleh anak kandungnya sendiri. Meski tidak sampai ditahan, sang nenek kini berstatus tersangka, dan terancam hukuman lima tahun penjara.

Akibat tidak ada Moral, Pencuri Anak Ayam Dijebloskan 3 Bulan Ke Dalam Tahanan, sedangkan koruptor miliaran rupiah seperti dalam kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dibiarkan bebas. Malah ada debitor kakap yang diantar dengan sangat bersahabat memasuki istana kepresidenan oleh pihak berwajib. Jangan heran pula ketika melihat tiga direktur Bank Mandiri, E.C.W. Neloe, I Wayan Pugeg, dan Tasripan, yang sudah dipenjarakan kemudian dibebaskan.

Kasus yang lain seperti seorang maling ayam yang harus dijatuhi hukuman kurungan penjara dalam hitungan Tahun. Ini sangat berbeda dengan para pejabat pemerintah atau mereka yang mempunyai banyak uang yang memang secara hukum terbukti bersalah namun dengan mudahnya membeli keadilan dan mempermainkan hukum sesuka mereka. Keduanya dalam kondisi yang sama namun dapat kita lihat bagaimanakah hukum itu berjalan dan dimanakah hukum itu berlaku.
Seharusnya pemerintah Indonesia dapat bertindak lebih adil dan untuk kalangan atas lebih memperhatikan lagi dengan segala aspek dalam hukum yang ada dalam negara kita ini. Bertindaklah seadil-adilnya, agar tidak ada pihak yang dirugikan maupun diuntungkan.
 Contoh diatas adalah sebagian kecil dari hal-hal yang terjadi disekitar kita. Namun dari hal tersebut yang akhirnya membuat orang-orang di negara ini akan mengagmbarakan bahawa hukum negara kita tidak adil. Begitu banyak penyebab sistem hukum di Indonesia bermasalah mulai dari sistem peradilannya, perangkat hukumnya, dan masih banyak lagi. Diantara hal-hal diatas, hal yang terutama sebenranya adalah ketidak konsistenan penegakan hukum. Seperti contoh kasus diatas. Hal tersebut sangat mengggamabarakan sangat kurangnya konsistensi penegakan hukum di negara ini, dimana hukum seolah-olah bahkan dapat dikatakan dengan pasti dapat dibeli.
Faktor penyebab ketidakadilan Hukum di Indonesia, antara lain:
1.    Tingkat kekayaan seseorang
Tingakatan kekayaan seseorang itu mempengaruhi berapa lama hukum yang ia terima 
2.    Tingkat jabatan seseorang
Orang yang memiliki jabatan tinggi apabila mempunyai masalah selalu penyelesaian masalahnya dilakukan dengan segera agar dapat mencegah tindakan hukum yang mungkin bisa dilakukan. Tetapi berbeda dengan pegawai rendahan. Pihak kejaksaan pun terkesan mengulur-ulur janji untuk menyelesaikan kasus tersebut.
3.    Nepotisme
 Mereka yang melakukan kejahatan namun memiliki kekuasaan atau peranan penting di negara ini dapat dengan mudahnya keluar dari vonis hukum. Ini sangat berbeda dengan warga masyarakat biasa yang akan langsung divonis sesuai hukum yang berlaku dan sulit unutk membela diri atau bahkan mungkin akan dipersulit penyelesaian proses hukumnya.
4.    Ketidakpercayaan masyarakat pada hukum
 Ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum muncul karena hukum itu lebih banyak merugikannya. Dilihat dari yang diberitakan ditelevisi pasti masalah itu selalu berhubungan dengan uang. Seperti faktor yang dijelaskan di atas membuat kepercayaan masyarakat umum akan penegeakan hukum menurun.
Ketika birokrasi institusi hukum hanya menghasilkan produk-produk ketidakadilan, maka yang harus ditinjau ulang adalah cara berhukum itu sendiri. Cara berhukum yang benar adalah dengan menerima bahwa hukum itu juga tumbuh berkembang dalam interaksi masyarakat dan  mengakui bahwa hukum ada tidak semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan dan makna sosial yang melampaui logika hukum. Dengan cara berhukum seperti ini maka kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan pulih kembali. Oleh karenanya tugas dari pelaku hukum dan ahli hukum dalam konteks Indonesia dewasa ini adalah bagaimana mencapai keadilan hukum, bukan melulu kepastian hukum. Masyarakat sangat menunggu adanya hokum yang berpihak kepada rakyat.

Hukum serta perasaan keadilan dalam pengertian yang sesungguhnya itu hanya akan ditemukan di dalam nurani tiap-tiap insan, dan ia akan selalu mendampingi, terutama manakala mereka akan menetapkan atau mengambil sebuah keputusan termasuk putusan hukum itu sendiri. Hukum sesungguhnya dibuat dan ditegakkan untuk mewujudkan keadilan. Namun hukum dan keadilan memang tidak selalu sejalan. Hal itu terjadi karena keadilan sebagai nilai tidak mudah diwujudkan dalam norma hukum. Nilai keadilan yang abstrak dan tidak selalu bersifat rasional tidak dapat seluruhnya diwadahi dalam norma hukum yang preskriptif. Hukum dirumuskan secara umum untuk mewadahi variasi peristiwa hukum serta kemungkinan hukum berkembang di masa yang akan datang.
Perlu dipertanyakan, apakah negara sudah menyediakan perangkat hukum dan menegakkan keadilan bagi rakyatnya. Apakah perangkat hukum yang disediakan oleh negara dan penegakan hukumnya telah mencerminkan keadilan dalam masyarakat.  Penegakan hukum merupakan pusat dari seluruh “aktivitas kehidupan”  hukum. Menegakkan keadilan bukanlah sekadar menjalankan prosedur formal dalam peraturan hukum yang berlaku di suatu masyarakat, menegakkan nilai-nilai keadilan lebih utama daripada sekadar menjalankan berbagai prosedur formal perundang-undangan. Rasa keadilan tidak hanya tegak bila penegak hukum hanya menindak berlandaskan pasal dalam UU secara kaku dan tidak mengenali nilai keadilan yang substantif (Keadilan dalam hal ini bukan hanya keadilan hukum positif, tetapi juga meliputi nilai keadilan yang diyakini dan berkembang dalam masyarakat). Dalam pikiran para yuris, proses peradilan sering hanya diterjemahkan sebagai suatu proses memeriksa dan mengadili secara penuh dengan berdasarkan hukum positif semata-mata. Pandangan yang formal ini mendominasi pemikiran para penegak hukum, sehingga apa yang menjadi bunyi undang-undang, itulah yang akan menjadi hukumnya.
Kelemahan utama pandangan hukum secara formal ini adalah terjadinya penegakan hukum yang kaku, cenderung mengabaikan rasa keadilan masyarakat karena lebih mengutamakan kepastian hukum. Proses mengadili dalam kenyataannya bukanlah proses yuridis semata. Proses peradilan bukan hanya proses menerapkan pasal-pasal dan bunyi undang-undang, melainkan proses yang melibatkan perilaku-perilaku masyarakat dan berlangsung dalam struktur sosial tertentu
Pengadilan yang merupakan representasi utama wajah penegakan hukum dituntut untuk mampu melahirkan tidak hanya kepastian hukum, melainkan pula keadilan, kemanfaatan sosial dan pemberdayaan sosial melalui putusan-putusan hakimnya. Kegagalan lembaga peradilan dalam mewujudkan tujuan hukum telah mendorong meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap pranata hukum dan lembaga-lembaga hukum. Untuk itu, suatu keputusan pengadilan harus benar-benar dipertimbangkan dari sudut moral, yaitu rasa keadilan masyarakat.
Hakim sebagai pemegang pedang keadilan harus selalu berwawasan luas dalam menerapkan hukum. Menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan secara benar dan adil. Apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, hakim wajib berpihak pada keadilan dan mengesampingkan peraturan perundang-undangan.
Kegiatan reformasi Hukum perlu dilakukan dalam rangka mencapai supremasi hukum yang berkeadilan. Beberapa konsep yang perlu diwujudkan antara lain:
1.    Penggunaan hukum yang berkeadilan sebagai landasan pengambilan keputusan oleh aparatur negara.
2.    Adanya lembaga pengadilan yang independen, bebas dan tidak memihak.
3.    Aparatur penegak hukum yang professional
4.    Penegakan hukum yang berdasarkan prinsip keadilan
5.    Pemajuan dan perlindungan HAM
6.    Partisipasi public
7.    Mekanisme control yang efektif.

Untuk memperbaiki Penegakkan Hukum di Indonesia maka  para aparat hukum haruslah taat terhadap hukum dan berpegang pada nilai-nilai moral dan etika yang berlaku di masyarakat. Apabila kedua unsur ini terpenuhi maka diharapkan penegakan hukum secara adil juga dapat terjadi di Indonesia. Kejadian-kejadian yang selama ini terjadi diharapkan dapat menjadi proses mawas diri bagi para aparat hukum dalam penegakan hukum di Indonesia. Sikap mawas diri merupakan sifat terpuji yang dapat dilakukan oleh para aparat penegak hukum disertai upaya pembenahan dalam system pengakan hukum di Indonesia.
Kasus Sengketa Lahan Ibu dan Anak yang tidak bermoral, Mahasiswa Galang Koin
TANGERANG, (KB).-

Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tangerang Raya menggelar aksi demo di depan Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, terkait Hj Fatimah (90), yang digugat anaknya Rp 1 miliar dalam kasus sengketa tanah.
Selain melakukan orasi, para mahasiswa ini juga menggelar aksi pengumpulan koin untuk Fatimah di Jalan TMP Taruna, depan PN Tangerang.

"Kami mengumpulkan koin untuk Nenek Fatimah, sebagai aksi kepedulian. Karena sangat tidak mungkin dia membayar gugatan Rp 1 miliar," ungkap Ketua HMI Cabang Tangerang Faridal Akmal, Selasa (7/10).

           Dalam tuntutannya, mereka juga meminta majelis hakim menegakkan keadilan dengan mebebaskan Fatimah dari gugatan. Menurutnya, kasus ini sangat memprihatinkan.
"Apakah pantas anak menuntut orang tua yang sudah renta. Padahal dia telah dilahirkan dan diurus hingga dewasa, orang tua tidak pernah menuntut apa-apa. Anak durhaka itu," kata Faridal.
Sementara itu sidang lanjutan perdata tersebut, masih dengan agenda mendengarkan keterangan saksi tergugat. Dimana majelis hakim PN Tangerang masih meminta kepada kedua pihak pihak pengugat dan tergugat agar melakukan perundingan guna menyelesaikan perkara tersebut secara kekeluargaan. “Kami masih berharap kedua pihak dapat berembuk dan mencari kesepakatan yang menguntungkan. Karena bagaimana pun juga penggugat dan tergugat ini kan masih satu keluarga. Keputusan hakim nantinya tidak akan memenuhi keadilan salah satu pihak, pasti ada yang merasa dirugikan,” kata Ketua Majelis Hakim Bambang Krisna, kepada penggugat dan tergugat.

Dilaporkan Pidana


Belum selesai gugatan perdata sebesar Rp 1 miliar, Hj Fatimah kembali dilaporkan menantunya secara pidana ke Polres Metro Tangerang. Fatimah dan anak keenamnya Rohimah, dilaporkan oleh Nurhakim dengan tudingan penyerobotan tanah dan penggelapan sertifikat tanah.
Janda delapan anak itu pun mendatangi Polres Metro Tangerang untuk diperiksa sebagai saksi usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (7/10), sekitar pukul 12.00 WIB.
Kuasa hukum Fatimah, Aris Purnomo Hadi menjelaskan, dalam surat panggilan polisi itu, Fatimah dan Rohimah dipanggil sebagai saksi karena dilaporkan dugaan pelanggaran Pasal 167 KUHP tentang penyerobotan lahan dan Pasal 372 KUHP tentang penggelapan.
"Ini sangat mengkawatirkan karena dalam pasal itu ancamannya hukuman penjara dibawah 5 tahun. Bayangkan saja seorang nenek sudah digugat Rp1 miliar, sekarang dilaporkan pidana," ungkapnya. (H-36)***

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook