Monday, October 19, 2015

JURNALISME BUDAYA PANTUN DAN GURINDAM



JURNALISME BUDAYA PANTUN DAN GURINDAM
SEBAGAI UPAYA PENANAMAN KARAKTER BANGSA
DALAM PENDIDIKAN DAN LATIHAN GURU
 DI INDONESIA

 


OLEH

Drs. H. Muhammad Rakib, S.H.,M.Ag
Widyaiswara LPMP. Pekanbaru Riau Indonesia
Tahun 2015











Abstract

         Dunia pendidikan dan latihan mengalami tantangan yang semakin berat terutama sejak berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin kompleksnya masalah kemasyarakatan yang dihadapi oleh manusia. Di sisi lain, perkembangan media komunikasi yang semakin modern tampaknya akan sangat membantu aktivitas penanaman nilai karakter bangsa. Peluang penanaman karakter akan semakin terbuka lebar ketika para widyaiswara dan guru, mampu memanfaatkan media massa dengan meminimalisir dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari media yang ada. Eksistensi  jurnalis dalam konteks pemberi informasi kepada masyarakat melalui media yang  digelutinya sangat urgen dalam ikut membangun opini publik (public opinion) termasuk dunia pendidikan.

         Dalam bahasa  penanaman karakter, wartawan dapat disepadankan dengan penatar, dengan alasan bahwa narasumber bertugas memberikan informasi kebenaran dalam masalah keislaman dalam arti seluas-luasnya dan dalam bingkai amar ma’ruf nahi munkar, sementara wartawan bertugas memberikan informasi yang positif terkait dengan berbagai masalah baik politik, sosial, budaya, ekonomi  dan lain sebagainya. Dewasa ini, ketika masyarakat semakin pandai dengan  adanya perkembangan teknologi dan komunikasi, seharusnya para da’i (juru  dakwah) lebih pandai dalam memanfaatkan media yang ada. 

          Media massa baik  cetak maupun elektronik menjadi sarana yang dinilai efektif dalam penyampaian  pesan dakwah. Sifat pesan dari media massa terutama media- media modern seperti internet adalah lebih luas serta tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga para widyaiswara dapat dengan mudah memperoleh materi-materi  pantun dan gurindam kapan saja. Budayawan  sangat mendambakan ada sosok seorang seakan wartawan   dalam tataran realitas bukan hanya pada tataran wacana, masih adakah  sosok pendidik, trainer yang mengembangkan budaya pantun dan gurindam saat ini di Indonesia khususnya.

                                                      

ABSTRACT

        World  of teaching and training,  experiencing increasing challenges, especially since the development of science and technology and the increasing complexity of thesocial problems faced by humans. On the other hand, the development of modern  communication media increasingly seems to be very helpful character building  activity. The caracter building opportunities will be open when the preacher is able  to utilize the media to minimize the negative impacts and maximize the positiveimpact of the media. Existence of  journalists in the context of a conduit of information to the public through the media that they do very urgent in participating public opinion (public opinion), including  educations world.

         In the language  of  character, the reporter can be matched with the preacher, on the grounds that the  preacher in charge of providing information of truth in trainers affairs in the  broadest sense and in the frame of commanding the good and forbidding the evil,  while the journalist in charge of providing information that is positive associated  with various problems either political, social, cultural, economic, and so forth.

         Today, when the public is getting smarter with the development of technology and communication, should the preacher (preacher) more proficient in using the  media. Mass media both print and electronic means, is effective in the delivery of  propaganda messages. The nature of the message of the mass media, especially  modern media such as the internet is broader and is not limited by space and time.  So the mad'u can easily obtain propaganda materials anytime. Trainers and teachers are eager  there is the figure of a  education arts  pantun and Gurindam journalist in levels of reality not only at the level ofdiscourse, there still figure trainers reporters today in Indonesia, especially


No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook