Monday, January 11, 2016

KEBOHONGAN SEJARAH INDONESIA PERLU DIANALISIS LAGI DAN LAGI

KEBOHONGAN SEJARAH INDONESIA
PERLU DIANALISIS LAGI DAN LAGI



CATATAN M.RAKIB JAMARI,S.H.,M.Ag. Pekanbaru Riau Indonesia.


Menarik tulisan M.Thariq Pada Hari Rabu, 13 Oktober 2010
Kataanya  Ada Separuh fakta sejarah Indonesia penuh kebohongan. Benarkah demikian?
Benarkah yang menyatukan nusantara adalah ulama, bukan Hayam Wuruk?
Benarkah Gajah Mada itu bergama Islam?

Kutipan tulisan M THARIQ
MEDAN - Hanya 50 persen fakta sejarah Indonesia yang benar, kata antropolog Unimed Prof Dr Usman Pelly, MA.

"Separuh lagi penuh kebohongan," tegas guru besar Unimed itu ketika memberikan tanggapan dan apresiasi dalam acara peluncuran dan bedah buku berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri Dan Revolusi Indonesia karya sejarawan terkemuka dari Belanda Harry A Poeze yang juga Direktur Lembaga Kerajaaan Belanda Untuk Bahasa, Bangsa dan Masyarakat atau Koninklijk Instituut Voor Taal-Landen Volkenkunde (KITLV).

Acara yang diadakan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed kerjasama dengan KITLV di VIP room Gedung Serbaguna Unimed, tadi siang, menampilkan narasumber Harry A Poeze, Dr Phil Ichwan Azhar (Ketua Pussis Unimed) dan Dr Ridwan Rangkuti, MA (pakar politik USU).

Pelly mengatakan, tidak sedikit fakta telah dikorupsi oleh penggalang koruptor sejarah demi melanggengkan kekuasaan sebelum dan pasca kemerdekaan. Dengan adanya buku karangan Harry Poeze, lanjutnya, memberikan fakta yang sebenarnya mengenai gambaran pejuang kiri yang berkiprah dalam revolusi kemerdekaan, seperti Tan Malaka. Pengakuan Pelly ketika itu sempat membakar surat-surat diperolehnya dari Tan Malaka yang ditulis pejuang berdarah Minang itu dari penjara, karena tekanan dari penguasa.

Katanya, sudah saatnya para akademisi melakukan pelurusan sejarah sebelum kemerdekaan. Dia menyayangkan pembekuan tim pelurusan sejarah oleh pemerintah yang sempat terbentuk waktu itu, di dalamnya terdapat Ichwan Azhari. Pelly berharap para akademisi terdorong melakukan upaya pengungkapan sejarah yang lurus agar seperti Tan Malaka yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional dimasukkan dalam buku sejarah di sekolah-sekolah. Sejarah Tan Malaka salah satu fakta sejarah, sebelum kemerdekaan, yang terlarang untuk dibaca pada masa Orde Baru dan pemerintah ketika itu menonjolkan komunisme versi penguasa untuk membentuk opini masyarakat terhadap sejarah yang dibelokkan.

Kepala Pussis Unimed Ichwan Azhari ketika membedah buku Tan Malaka mengatakan, pemerintah harus meluruskan sejarah tentang peranan komunis sebelum dan sesudah 1945 yang dinilai sangat berbeda. Baginya, komunis sebagai ideologi pergerakan telah memberi kontribusi dalam proses kemerdekaan Indonesia.

"Kita harus merevisi pandangan tentang komunis. Salah jika kita campuradukkan komunis pasca 1948 dan 1965. Dalam sejarah selama ini, Tan Malaka dibuat sebagai tokoh misterius dan beraliran komunisme," katanya.

Komunisme versi pemerintah
Meski Tan Malaka pernah menjabat ketua PKI di Semarang dan perwakilan komunis di Asia Tenggara, dia pernah mengecam komunis ketika idenya ditolak ingin membuat kerjasama komunisme dengan islamisme/Sarikat Islam. Akhirnya, Tan Malaka dianggap sebagai musuh besar komunis karena dituduh berkhianat. "Beberapa fakta sejarah ini yang tidak ditonjolkan dari seorang Tan Malaka selama ini."

Bukti sejarah komunisme bagi Tan Malaka ini, lanjutnya, dijadikan strategi melawan penjajahan Belanda. Namun, fakta itu dibenamkan penguasa orde baru. Yang ada komunisme versi penguasa ketika itu yang telah terpola di kepala kita. Menurut Ichwan, buku karya Poeze ini menjadi sumber insprasi baru untuk mengkaji serius sejarah yang benar. Namun, Ichwan mengkritik dalam buku kedua ini ada dua kata yang dihilangkan dari tulisan Belanda yakni dihujat dan dilupakan. Dua kata ini, lanjutnya, sangat penting untuk membuka tabir sebenarnya. Penguasa orde baru sangat berjasa menghilangkan sejarahnya dan bagaimana Tan Malaka bertarung dengan tokoh-tokoh pergerakan dan ilmuwan pada zamannya.

Sementara itu, pakar politik USU Ridwan Rangkuti sependapat Tan Malaka seorang pejuang idelogi terbaik Indonesia yang bisa menjadi contoh.

"Tan Malaka seorang pemikir, politisi dan pejuang revolusioner. Dia aktif menulis buku dan melakukan aksi. Tidak hanya itu, dia pernah mendirikan partai politik untuk mengembangkan politiknya," katanya.

Menurut Rangkuti, dia bahkan sejajar Karl Marx dan George Wihelm Friederich Hegel karena berhasil mengembangkan dialektika historis logika dalam karyanya berjudul Madilog. Katanya, buku karya Harry Poeze sangat baik untuk bacaan para politisi di tanah air. Buku ini memaparkan bagaimana Tan Malaka mengembangkan karir politik, sekaligus sebagai gambaran bahwa sampai sekarang tidak ada perubahan yang mendasar pada sistem kelembagaan dan perilaku politik era sekarang dan dulu, antara lain, terdapat saling mencurigai.

Tidak diungkap
Harry Poeze menjelaskan buku itu ditulisnya melalui riset 10 tahun. Fakta sejarah ini diperolehnya sebagian besar dari karya-karya Tan Malaka. Buku ini akan diterbitkan dalam enam jilid. Sedangkan yang diluncurkan ini jilid II. Dia menerbitkan buku itu dua jilid dalam setahun. Buku ini aslinya setebal 2.000 halaman. Harry mengatakan, dia menulis buku ini karena banyak fakta sejarah pada masa revolusi di Indonesia yang tidak diungkap atau dikaburkan oleh penguasa. Dengan buku ini, katanya, diharapkan semua fakta sejarah dapat diketahui terutama sepak terjang Tan Malaka sebagai pahlawan nasional Indonesia yang dilupakan.

Poeze menceritakan, sepak terjang Tan Malaka di dunia politik melalui Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (Pari) yang didirikan di Bangkok dan Partai Murba didirikan 1948. Peran Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka di belakang layar, salah satunya ada pada rapat Ikada di Jakarta. Poeze mengabadikan gambar Tan Malaka di belakang Soekarno. Tan Malaka sebagai nasionalis beraliran kiri dan pemikir revolusioner, lanjutnya, terbuang dari tanah air karena dianggap melawan arus. Dia lahir di Nagari Pandam GadangSuliki, Sumatera Barat 2 Juni 1897 dan wafat di Jawa Timur 21 Februari 1949, di belakang layar.
Diposkan oleh Renol Hasan di 11.26


No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook