Wednesday, June 15, 2016

LITERASI DI JEPANG Oleh Dr.M.Rakib Jamari,S.H.,M.Ag.

PROGRAM LITERASI DI JEPANG
Oleh  Dr.M.Rakib Jamari,S.H.,M.Ag. LPMP Pekanbaru Riau
Indonesia. 2016

Literasi adalah, budaya baca,
Dimulai, dari sekolah.
Demi untuk, cerdaskan bangsa.
Bermartabat, hidup mulia.

         Melihat orang Jepang kemana-mana selalu membawa buku yang bersampul, baik itu di kereta, di bis, di taman memang bukan hal yang aneh lagi. Cintanya mereka terhadap buku sudah tidak bisa dikatakan gemar lagi, tapi membaca buku sudah jadi budaya mayarakat Jepang. Saya pernah tanya kepada suami saya, “kenapa sih orang Jepang suka membaca buku? Sejak kapan?” Jawabannya sangat simple, sejak dulu! Mereka terbiasa karena dibiasakan untuk membaca buku, tentu saja yang bisa `memaksa` mereka adalah SEKOLAH.

        Kata WARTAWAN KOMPAS Saya jadi ingat pelajaran SD si sulung dengan mata pelajaran, Kokugo-Ondoku, yang artinya pelajaran Bahasa Jepang, membaca dengan bersuara. Dari kelas satu sisulung selalu ada PR untuk membaca buku yang sudah ditetapkan dari halaman berapa sampai halaman berapa si sulung harus membaca dengan suara yang jelas dan kita orang tua wajib mendengarkan dan mengoreksi kalau ada kata-kata yang salah pengucapannya. Dan itu setiap hari! Sampai si sulung jadi hafal dan mengerti apa yang sedang diceritakan dalam buku bacaannya itu. Selain tugas itu ada lagi, yaitu membaca buku yang ada di rumah, nah ini membuat kami orang tua harus meluangkan waktu juga untuk selalu meng –up to date- koleksi buku-buku di rumah.

          Walau tugas baca buku koleksi di rumah ini tidak setiap hari dilakukan, tapi setidaknya cara itu bisa menyulut anak-anak untuk terus berakrab dengan yang namanya buku dan kegiatan membaca. Kata suami pun, pelajaran dalam hal membaca buku ini sudah dari dulu, dalam arti waktu suami SD pun, sekitar hampir 40 tahun yang lalu, ia pun selalu dicecoki untuk membaca, membaca dan membaca oleh sekolah. Dukungan sekolah  untuk urusan baca membaca ini, adalah dengan melengkapi perpustakaan sekolah dan perpustakaan kota dengan buku-buku referensi baik itu buku-buku lama bahkan buku terbaru sehingga membuat semangat anak-anak di Jepang meminjamnya untuk dibawa pulang ke rumah.





                                  Literasi dalam praktik pendidikan,
           Perlu menjadikannya, alat pembelajaran
             Semua warganya, dapatkan kesempatan,
Menimba ilmu, sepanjang zaman.

Oleh  Dr.M.Rakib Jamari,S.H.,M.Ag. Pekanbaru Riau
Indonesia. 2016


Akibat literasi, tumbuhlah pembelajar,
Kementerian pendidikan yang menggelar,
Namanya GLS memperkuat nalar,
Gerakan budi pekerti, terus menjalar.

Peraturan Menteri Nomor 23,
            Kegiatan 15 menit harus membaca.
         Buku nonpelajaran, sejak semula.
                          Menumbuhkan minat baca, semua peserta.

Agar pengetahuan dapat dikuasai,
Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti,
Kearifan lokal, nasional, dan globalisasi,
Sesuai tahap perkembangan, yang alami.

                                  Terobosan penting ini, hendaknya melibatkan,
                                  Semua pemangku, yang berkepentingan,
                                  Mulai dari tingkat pusat, sampai pedesaan.
                                  Dari kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan.

Pelibatan orang tua, dan  peserta didik,
Juga masyarakat, dan tokoh plitik,
Menjadi komponen,  penting  untuk mendidik.

Gunakan GLS, sebagai  taktik.

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook