Thursday, July 28, 2016

PANTUN KRITIK YANG SOPAN DAN SANTUN ANALISIS Dr.Muhammad Rakib Jamari, S.H.,M.Ag.




PANTUN KRITIK YANG SOPAN DAN SANTUN

ANALISIS Dr.Muhammad Rakib Jamari, S.H.,M.Ag. Pekanbaru di LPMP Riau Indonesia

               Pantun artinya penuntun
               Isinya nesehat, paling santun
               Sampirannya indah, beralun
               Mampum membuat orang tertegun

Pantun kritik, ditampilkan menarik,
Semua orang, jadi simpatik.
Walaupun orang yang stress, dijamin melirik
Isnya filasafat, yang mudah dipetik

               Bagaimana bisa, menangkap kutu,
               Kalau disuruh, orang buta.
               Bagaimana pendidikan, bisa bermutu,
               Tanpa prinsip, berwiraswasta

         Sejak dahulu, dunia sudah tahu bahwa memang pantun merupakan hasil karya sastra asli bangsa Indonesia. Di masa dahulu hampir kehidupan sehari-hari berkomunikasi sesama manusia dilakukan dengan berpantun. Ketika anak-anak bermain, mereka menggunakan pantun. Ketika para remaja berkumpul mereka selalu berpantun. Orang tua memberi nasihat pada anak-anaknya, mereka mengungkapkannya menggunakan pantun. Ketika menawarkan barang dagangannya, mereka pun menggunakan pantun. Hal ini menunjukan bahwa pantun merupakan hasil budaya masyarakat yang bernilai seni tinggi. Lewat pantun mereka dapat mengungkapkan perasaan gembira, sedih, kecewa, petuah, bahkan untuk menghibur hati.

          Banyak sastra lisan yang tidak tahu lagi, siapa penciptanya, karena dahulu belum ada perlindungan hak cipta. Hal yang paling pentting ialah penanaman etika dan budi pekerti mulia. Hargai saja sudah cukup, tanpa memnuntut hak paten. Sebagai bangsa yang menghargai kebudayaan, maka kita wajib melestarikan semua kebudayaan Indonesia dari manapun asalnya. Kebudayaan itu tidak ternilai harganya. Oleh sebab itu, kita sebagai pewaris kebudayaan wajib melestarikan kebudayaan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari. Jangan sampai budaya kita di curi oleh bangsa lain atau diakui bangsa lain.

Kita dapat menggunakan pantun dalam situasi dan kondisi masyarakat kita sekrang. Sebagai contoh pada acara pernikahan. Pernahkah andamemperhatikan ketika pihak pengantin pria menyerahkan pengantin pada pihak wanita? Kalau anda cermati, pembawa acara selalu menggunakan pantun dalam berbahasa. Meskipun bahasa pantun yang sekarang digunakan tidak sama persis dengan bahasa pantun waktu dulu. Akan tetapi, ciri-ciri pantun tetap harus dipenuhi.


          Pantun yang digunakan dalam acara-acara biasanya saling menyambung. Artinya isi pantun yang pertama akan mendapat jawaban pada isi pantun yang kedua. Begitu seterusnya. Pantun yang seperti ini dinamakan berbalas pantun. Mungkin anda sering menonton Facebuker di slah satu Televisi Swasta di Indonesia, disitu sering dikeluarkan pantun-pantun, cuma bentuknya pantun jenaka.Pantun keagamaan memang besar pula manfaatnya untuk memperindah nasehat dan tidak pernah bosa untuk diulang-ulang… 

No comments:

Post a Comment

Komentar Facebook